Tahlilan Menurut Para Ulama Syafi’iyyah

Perkataan Imam asy-Syairazi Rahimahullah

Imam asy-Syairazi Rahimahullah berkata: “Tidak disukai/dibenci duduk-duduk (di tempat ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangannya dari agama) sedangkan muhdats itu adalah bid’ah.”

Keterangan: Lihat al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab (V/268) dengan tahqiq Dr. Mahmud Mathraji.

Imam an-Nawawi Rahimahullah

Imam an-Nawawi Rahimahullah bependapat dengan menukil perkataan penulis kitab ‘As-Syaamil’ dan ulama lainnya: “Adapun hidangan yang dibuat keluarga mayit dan berkumpulnya manusia untuk hidangan itu, maka hal itu tidaklah dinukil sedikitpun keterangan (dalil), tidak disunnahkan dan itu adalah bid’ah.”

Keterangan: Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab (V/282), dan Raudhatuth Thalibin (II/145).

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata:

“Imam Syafi’i dan Sahabat-sahabat kami Rahimahullah telah berkata: “Dibencinya duduk-duduk pada saat berta’ziyah, mereka berkata: “Yang dimaksud dengan duduk-duduk di sini adalah berkumpulnya keluarga mayit dalam suatu rumah dengan maksud agar orang-orang yang hendak berta’ziyah dapat mengunjungi mereka. Namun hendaknya mereka yang berta’ziyah ini segera pergi untuk memenuhi keperluan mereka setelah berta’ziyah, tidak ada bedanya antara laki-laki dan wanita sehubungan dengan makruhnya duduk-duduk pada saat ta’ziyah. Al-Mahamili telah menegaskan hal itu dan dia telah menukilnya dari pernyataan Imam asy-Syafi’i. Ini adalah suatu larangan yang amat keras, jika bersamanya tidak ada perkara muhdats (bid’ah) yang lain. Jika dia menggabungkannya dengan perkara lain dari suatu bid’ah yang diharamkan sebagaimana yang biasa terjadi dalam tradisi maka perbuatan itu adalah haram, termasuk seburuk-buruknya perkara haram, karena sesungguhnya itu adalah muhdats (bid’ah). Dan telah dijelaskan di dalam hadits shahih bahwa: “Sesungguhnya setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”

Keterangan: HR. Muslim (no. 867), lihat Kitab Nailul Authar bi Takhriij Ahaadiist Kitaab al-Adzkaar (I/355) dengan tahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata: “Salah satu petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berta’ziyah di rumah keluarga mayit. Namun berkumpul pada saat berta’ziyah dengan membaca al-Qur-an untuk si mayit, baik di kuburannya atau tidak, bukanlah petunjuk beliau. Dan ini semua adalah bid’ah, sesuatu yang baru dan dibenci.”

Keterangan: Zaadul Ma’ad (I/508) dengan tahqiq Syu’aib al-Arna’uth dan Abdul Qadir al-Arna’uth.

Imam as-Suyuthi Rahimahullah

Imam as-Suyuthi Rahimahullah berkata: “Termasuk perkara bid’ah adalah berkumpul-kumpulnya orang-orang untuk berta’ziyah kepada keluarga mayit.”

Imam asy-Syafi’i telah berkata: “Dan aku membenci al-ma’tam, yaitu berkumpul-kumpulnya laki-laki dan para wanita (di rumah keluarga mayit) karena hal itu membangkitkan kembali kesedihan. Begitu pula dengan berkumpulnya laki-laki di kubur pada hari kedua dan ketiga.”

Keterangan: Al-Amru bil Ittibaa’ wan Nahyu ‘anil Ibtidaa’ hal. 288 dengan tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman.

Imam al-Munawi Rahimahullah

Imam al-Munawi Rahimahullah berkata: “Dan tidak disunnahkan melakukan yang seperti itu (yakni keluarga mayit membuat makanan) untuk disajikan kepada kerabatnya. Sebab hal itu adalah awal bergembira, bukannya berduka. Ini adalah amalan bid’ah yang buruk. Demikianlah pendapat Nawawi dan yang lain.”

Keterangan: Faidhul Qadir (I/687), Syarh al-Jaami’ ash-Shaghiir.

Imam Ibnu al-Haj Rahimahullah

Imam Ibnu al-Haj Rahimahullah berkata: “bagaimana upayamu terhadap apa yang dibiasakan oleh sebagian mereka pada zaman ini? Bahwa asli mayit membuat makanan sampai tiga hari lamanya dan orang-orang pun berkumpul di situ, yang bertolak belakang dengan apa yang diamalkan kaum salaf Radhiyallahu ‘anhum. Waspadalah terhadap amalan yang demikian itu, sebab amalan tersebut adalah bid’ah yang tidak disukai.”

Keterangan: Al-Madkhal (III/289).

Imam ath-Thurthusi Rahimahullah

Imam ath-Thurthusi Rahimahullah berkata: “Adapun al-ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul (di rumah ahli mayit), maka ia dilarang berasarkan ijma’ (kesepakatan) ulama. Al-ma’tam ialah berkumpul karena ada musibah. Ia adalah bid’ah yang mungkar dan tidak ada dalilnya sama sekali. Demikian pula berkumpul pada hari kedua, ketiga, keempat, ketujuh, satu bulan dan satu tahun.”

Keterangan: Taudhihul Ahkam Syarh Bulughul Maram (III/271), oleh Syaikh Abdullah al-Bassam.

Syaikh Abu Bakar Muhammad ad-Dimyathi Rahimahullah

  1. “Berkumpul di tempat keluarga mayit dengan banyak hidangan termasuk bid’ah munkaroh. Bagi orang yang memberantasnya akan diberi pahala.”
  2. “Dan termasuk perkara yang dibenci: Menyelenggarakan jamuan makanan pada hari pertama (kematian), hari ketiga, sesudah seminggu dan juga memindahkan makanan ke kuburan secara musiman (seperti peringatan haul).”
  3. “Dan di antara bid’ah yang munkaroh yang tidak disukai ialah perkara yang biasa dikerjakan orang untuk menyampaikan rasa duka cita, berkumpul dan membuat jamuan majelis untuk kematian pada hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram.”

Keterangan: I’anatut Thalibin, Syarh Fathul Mu’in juz II hal. 145-146.

Syaikh Muhammad al-Khatib asy-Syarbini Rahimahullah

Syaikh Muhammad al-Khatib asy-Syarbini Rahimahullah berkata: “Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara itu maka itu merupakan bid’dah yang tidak disunahkan.”

Keterangan: Lihat Mughni al-Muhtaj (I/268).

Syaikh Ramli Rahimahullah

Syaikh Ramli Rahimahullah berkata: “Di antara bid’ah yang munkaroh (yang tidak dibenarkan agama), yang dibenci apabila diamalkan sebagaimana yang telah diterangkan di dalam kitab ar-Raudhah (Imam an-Nawawi), yaitu apa yang dilakukan oleh masyarakat berupa menghidangkan makanan untuk acara kumpul-kumpul di rumah ahli mayit, baik dilangsungkan sebelum atau sesudah kematian serta penyembelihan di kuburan.”

Keterangan: Lihat Hasyiyatul Qalyubi (I/353).

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata: “Segala apa yang dilakukan orang-orang pada masa sekarang ini berupa kumpul-kumpul untuk ta’ziyah, mendirikan tenda-tenda, membentangkan hamparan, menghambur-hamburkan harta yang banyak demi gengsi dan kesombongan adalah merupakan hal-hal yang baru dan bid’ah munkaroh yang wajib dijauhi oleh semua kaum muslimin dan haram melakukannya, apalagi sering dibarengi dengan hal-hal yang bertentangan dengan petunjuk al-Qur-an da as-Sunnah serta berjalan sesuai dengan adat jahiliyah seperti melagukan al-Qur-an dan tidak mematuhi adab tilawah, meninggalkan diam dan tidak ribut (ketika mendengarkan al-Qur-an), menyibukkan dengan merokok, dan lain-lain. Tidak hanya sampai di situ saja bahkan ditambah lagi oleh para pengikut hawa nafsu dengan tidak mencukupkan hanya pada hari-hari pertama saja. Bahkan mereka membuat acara pada hari ke-40 nya untuk mengulangi kemungkaran dan bid’ah ini. Kemudian mereka menyelenggarakannya lagi setahun setelah kematian dan tahun-tahun berikutnya (yaitu acara haul). Demikianlah seterusnya dari hal-hal yang tidak sesuai dengan akal maupun naql (dalil).”

Keterangan: Fiqhus Sunnah (I/393) .

Syaikh Wahbah az-Zuhaili Rahimahullah

Syaikh Wahbah az-Zuhaili Rahimahullah berkata: “Adapun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka hal itu dibenci dan bid’ah yang tidak ada asalnya. Karena akan menambah musibah mereka dan menyibukkan mereka di atas kesibukan mereka dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyah.”

Keterangan: Lihat Kitab al-Fiqhul Islami (II/549).

Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna Rahimahullah

Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna Rahimahullah berkata: “Telah sepakat Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) atas tidak disukainya keluarga mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul di situ berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah haram, marena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para sahabat telah memasukannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu haram.”

Keterangan: Fathur Rabbani Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal (VIII/95-96).

Syaikh Mahmud Syaltut Rahimahullah

Syaikh Mahmud Syaltut Rahimahullah (mantan rektor al-Azhar) menyatakannya haram.

Keterangan: Lihat al-Fatawa (no. 215).

Syaikh Ahmad al-Syirbashi Rahimahullah

Syaikh Ahmad al-Syirbashi Rahimahullah menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bid’ah.

Keterangan: Yas-alunaka ‘Anid dini wal Hayah (V/160).

Advertisements

6 thoughts on “Tahlilan Menurut Para Ulama Syafi’iyyah

  1. pak ustad saya selalu menjamu makanan / minuman kepada tamu yang hadir baik ada kematian maupun tidak ,saya merasa gembira dan bahagia sangat ihlas tidak punya rasa repot sedikitpun tidak pula bertenden agama . apalagi kalau suguhan saya berkenan di makan waduh betapa besar rasa sukur saya kepada ALLah, apa itu salah lalu aku jadi sesat dimasukan neraka? ah yang bener aja pak Ustad!!!

  2. evanbumiayu

    Pak Slamet Afif, semoga Allah melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua…

    Jangan lari ke masalah sesat, neraka, dll dahulu…coba baca kembali penjelasan para ulma Syafi’iyyah (ulama2 yang bermadzhab Syafi’i) tentang hukum acara tahlilan kematian di atas…karena kita tahu bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia menyatakan bermadzhab Syafi’i, maka cobalah pahami perkataan2 ulama di atas dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih dan jauh dari rasa curiga dan emosi…

    bapak Slamet yang baik, sudah mafhum diketahui seluruh ulama dari zaman dahulu hingga sekarang bahwa syarat diterimanya amal ibadah itu ada dua : 1. Ikhlas hanya mengharap ridha Allah semata. 2. mengikuti petunjuk dan tuntunan dari Rasulullah. Coba buka QS. Al Kahfi: 110, Al Bayyinah: 5, Al Ahzab: 21, Al Hasyr: 7, QS. Al Qalam: 4, dan amsih banyak lagi ayat2 Al Quran yang menyebutkan tentang syarat2 diterimanya ibadah tersebut. Belum lagi ada puluhan hadits shahih juga yang menjadi dasar akan hal ini.

    Lalu, cobalah lihat dalam pelaksanaan tahlilan. Iya, barangkali orang yang mengadakannya atau yang mengikutinya (seperti yang Bapak sampaikan) itu ikhlas benar2 mengharap ridho Allah. Tapi, apakah sampai di sini saja syaratnya? tentu tidak. cobalah lihat, apakah ada tuntunan dari Rasulullah untuk mengadakan acara tahlilan kematian itu? apakah Rasulullah pernah mengadakannya, walau satu kali saja? padahal rasulullah adalah rasul teladan kita, teladan yang paling agung, manusia paling mulia, yang kita diwajibkan untuk mengikuti beliau sebagai konsekuensi dua kalimat syahadat yang kita ucapkan…tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa Rasulullah melakukan hal itu. kemudian, apakah para sahabat Nabi melakukannya? padahal para sahabat nabi adalah generasi umat Islam terbaik, karena mereka hidup di zaman Rasulullah, mendapatkan bimbingan dan pengajaran langsung dari rasulullah…Tapi tidak ada satu pun sahabat Nabi yang melakukannya…lalu, apakah para tabi’in, tabi’ut tabi’in melakukannya? tentu jawabannya tidak ada juga…padahal mereka adalah generasi terbaik setelah para sahabat…lihat QS. At Taubah: 100….dan kemudian lagi, apakah para ulama imam empat madzhab seperti imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad melakukannya? jawabannya juga tentu tidak…lihat perkataan2 para imam tersebut di blog ini…

    Jadi, niat baik dan ikhlas saja belum cukup untuk disebut sebagai amal shalih, akan tetapi harus juga disertai tuntunan dari Rasulullah…

    Coba Bapak renugkan hal ini…jika ada orang Islam yang membuat ide untuk melaksanakan shalat wajib 5 waktu itu menjadi ditambah 6 waktu misalnya di waktu tengah malam, meskipun dia menyatakan ikhlas semata2 mengharap ridho Allah, kira2 itu benar atau tidak? apakah shalat wajib yang keenam itu diterima oleh Allah atau tidak? tentu Bapak sudah tahu jawabannya…tidak mungkin hal tersebut dikatakan sebagai amal shalih, tapi amal salah..karena walaupun dia menyatakn ikhlas, tapi tidak ada tuntunannya dari Rasulullah bahwa shalat wajib itu ada 6 waktu…yang benar ya 5 waktu…

    mudah2an penjelasan yang singkat ini bisa dipahami…

    barakallahu fiik 🙂

  3. evanbumiayu

    oh ya tambahan,

    kalau menjamu tamu yang datang ke rumah kita tanpa adanya acara tahlilan atau acara2 yang tidak ada tuntunannya dalam Islam, dll, hanya bertamu seperti biasa, silaturrahim, dll maka hal itu tentu boleh, bahkan sangat dianjutkan…karena kewajiban kita untuk memuliakan tamu, sepanjang tidak ada hal2 yang melanggar syariat.

  4. ibra sasono

    sbelumnya mohon maaf barangkali pendapat saya kurang berkenan..pak evan ea namanya!..kalo yg namanya bi,dah ya udah bi,dah saja menurut kepercayaan masing2.. tapi masa iya ada ahli agama melarang orang mau melaksanakan tahlilan apalagi di bumiayu yg warganya sudah tradisi melaksanakan tahlilan tiba2 ada larangan..eh jangan ikut tahlilan itu bi,dah tau!..kalo menurut saya sih selama allah tidak melarang ngapain para imam2 itu pada rempong ngurusin orang mau tahlilan segala!..kalo menurut dia baik di dia, ya udah jalani saja apa yg menurut dia baik, tapi kalo itu nggak baik menurut dia, ya udah nggak usah rempong..

    1. evanbumiayu

      pak ibra, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada bapak dan kita semua…

      – hukum asal dalam ibadah adalah terlarang (haram), sampai ada dalil (Al Quran atau As Sunnah) yang memerintahkannya…kebalikan dari itu adalah dalam masalah muamalah. Hukum asal muamalah adalah semuanya boleh, kecuali yang dilarang (diharamkan)..jadi jangan terbalik2..
      – tradisi tahlilan kematian itu tidak ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabat. Padahal mereka adalah orang2 yang paling sholih. Coba bandingkan, sholehan mana antara Rasulullah dan para sahabat dengan orang2 yang memerintahkan untuk tahlilan? tentu perbedaannya antara langit dan bumi… (jauh sekali)
      – sesuatu yang dianggap masyarakat baik, belum tentu menurut Allah dan Rasul-Nya itu baik…coba bapak baca firman Allah berikut : (artinya), Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS. Al An’aam: 116)
      – para ulama itu adalah pewaris para nabi..melalui para ulama yang sholeh lah kita bisa mendapatkan manisnya iman dan indahnya ilmu agama yang diajarkan oleh para ulama..maka sikap kita terhadap para ulama adalah menghormatinya dengan baik..
      – jika di kampung kita masih ada acara2 tahlilan seperti itu, maka tentu kita menasehatinya dengan cara yang baik, tidak dengan cara kekerasan, sok pahlawan, dll…tidak..nasehati dengan cara yang baik, sebutkan dalil-dalil dari AL Quran, hadits shahih, perkataan2 para ulama…dan tetaplah tunjukkan akhlak yang baik dan santun, serta jangan lupa doakan mereka, mudah2an Allah beri petunjuk-Nya untuk meninggalkan acara2 tsb yang tidak ada contohnya dari Rasulullah, sang teladan terbaik untuk kita (baca QS. Al Ahzab: 21)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s