Tahlilan Menurut Para Sahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum

Menurut Jarir bin ‘Abdullah al-Bajali Radhiyallahu ‘anhu

Jarir bin ‘Abdullah al-Bajali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami (para sahabat Nabi) menganggap bahwa berkumpul-kumpul di (rumah) keluarga mayit dan membuat makanan setelah (si mayit) dikubur merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).”

Keterangan: HR. Ahmad (II/204) (no. 6905), Ibnu Majah (I/514) (no. 1612), ad-Daruquthni dalam Al-‘Ilal (IV/Q.89A) dan ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabiir (II/307) (no. 2278). Di dalam Mishbahuz Zujaajah, Imam Bushairi (wafat tahun 840 H) menulis: “Sanadnya shahih, para perawi jalur pertama sesuai dengan syarat al-Bukhari, sedangkan para perawi jalur kedua sesuai dengan syarat Muslim.” (Sunan Ibnu Majah tahqiq Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi dengan Hasyiyah Mishbaahuz Zujaajah (I/514) (no. 1612), dishahihkan juga oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ (V/282), asy-Syaukani, Ahmad Syakir dan juga Syaikh al-Albani dalam Ahkaamul Janaa’iz hal. 210 dan di dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (II/48) dan dapat juga dilihat keterangan takhrij hadits ini di Kitab al-Amrubil Ittibaa’ wan Nahyu ‘anil Ibtidaa’ hal. 289 oleh Imam as-Suyuthi dengan tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman). Diriwayatkan juga dari Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannafnya dalam kitab Al-Janaa’iz, bab Fin Niyaahah ‘alal Mayyiti wa Maa Jaa’a fiihi (III/263) (no. 7) dan Aslam al-Wasithi di dalam kitab Taariikh Waasith hal. 107 (lihat Ahkaamul Janaaiz hal. 210 oleh Syaikh al-Albani). Riwayat ini menunjukkan telah terjadi ijma’/kesepakatan di antara para sahabat dalam masalah ini yaitu berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit atau yang dikenal di sini dengan nama “acara tahlilan” adalah haram berdasarkan ijma’ para sahabat karena mereka telah memasukkan hal ini ke dalam bagian meratap, sedangkan meratap adalah dosa besar. Dan ijma’ para sahabat adalah dasar hukum Islam yang ketiga setelah al-Qur-an dan as-Sunnah dengan kesepakatan seluruh para Ulama Islam.

Menurut Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu

Dan telah diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kepada Umar, lalu Umar bertanya: “Apakah mayit kalian diratapi?” Jawab Jarir: “Tidak.” Lalu Umar bertanya lagi: “Apakah orang-orang berkumpul di keluarga mayit dan membuat makanan?” Jawab Jarir: “Ya.” Maka Umar berkata: “Yang demikian adalah ratapan.”

Keterangan: Al-Mughni (III/497) oleh Imam Ibnu Qudamah, ditahqiq Syaikh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan juga terdapat dalam redaksi yang hamper serupa yang tercantum dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (II/487), juga tercantum dalam lafadz yang berbeda tetapi maknanya sama, pada halaman itu juga Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan dua hadits lain, yaitu: (1) Telah berbicara kepada kami, Waki’ bin al-Jarrah dari Sufyan dari Hilal bin Khabab dari Khabab al-Bukhtari, beliau berkata: “Makanan yang dihidangkan keluarga mayit adalah merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah dan niyahah (meratapi mayit) merupakan perbuatan jahiliyah.” (2) Telah berbicara kepadaku Yan’aqid bin Isa dari Tsabit dari Qais, beliau berkata: “Aku melihat Umar bin Abdul Aziz melarang keluarga mayit mengadakan kumpul-kumpul, kemudian berkata: “Kalian akan (mendapat) bencana dan akan merugi.”

 

Sumber: Buku Tahlilan, Najmi bin Umar Bakkar, hal. 21-24, penerbit Jadid Pustaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s