Saatnya Berhijrah, Sekarang Juga!

Sore ini turun hujan seperti biasanya. Gemericik suaranya begitu indah, mengalun bagai untaian nada-nada yang merdu. Sedangkan di dalam perut ini seperti ada konser keroncong, krucak krucuk tak karuan. Rupanya keengganan saya untuk makan tadi siang telah menampakkan hasilnya juga. Saya segera menuju ke warung dekat tempat kost. Menikmati sepotong bakwan dingin dengan semangkuk bubur kacang hijau agak hangat. Alhamdulillah, enaknya. Sesekali saya menoleh kepada sebuah benda kotak, hitam, ada gambar yang bergerak-gerak di sisi depannya dan bersuara. Benda tersebut terletak di pojok atas salah satu ruangan warung.

 

Di kotak tersebut, ada tayangan tentang seorang pria yang sedang marah-marah di depan seorang wanita dan seorang pria lain. Ada beberapa orang lagi di sekitarnya yang asyik menonton pertunjukan gratis tersebut. Semua yang ada di sana adalah kawula muda, usianya paling-paling delapan belas sampai dua puluhan tahun. Tidak ada orang jompo di sana. Ya, saya bisa menebak bahwa tayangan tersebut adalah sebuah acara reality show mirip-mirip H2C (Harap-Harap Cemas). Sebuah acara yang di-setting secara khusus untuk “memergoki” seseorang yang sedang kencan dengan pacar barunya, sehingga membuat ia kalang kabut ketika ketahuan aksi backsreet-nya. Oalah…ternyata yang begituan masih saja ada di zaman millenium begini.

 

Mungkin, Anda pernah menjumpai hal yang serupa dengan acara tadi. Di rumah, sekolah, mall, tempat kerja atau di tempat-tempat lainnya. Juga, kejadian tadi boleh jadi pernah menimpa teman, sahabat atau saudara Anda. Atau mungkin malah Anda sendiri yang mengalaminya? Menjalin suatu ”hubungan khusus” dengan lawan jenis yang belum terikat dengan perjanjian yang sah secara syar’i, kemudian ternyata si dia malah menduakan Anda dengan orang lain. Wah, betapa sedihnya. Atau, lebih tragisnya lagi Andalah yang menduakannya. Dua-duanya sama-sama parahnya.


 

Saudaraku, ketika kita melihat fenomena-fenomena ini, yang hampir setiap saat menjadi menu utama dalam dinamika pergaulan hidup manusia, maka hal ini seharusnya menjadikan kita semakin mampu untuk berintrospeksi diri. Fenomena ”hubungan khusus” berlabel pacaran, TTM (Teman Tapi Mesra), pergaulan bebas, atau bahkan ”kecairan” yang berlebihan nampaknya masih menjangkiti sebagian saudara-saudara kita. Mungkin kita merasa hal itu biasa-biasa saja, tapi sesungguhnya hal itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Ada bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Jika bom ini tidak dijinakkan, atau diledakkan tapi di tempat yang aman, maka kerugian besar akan dialami oleh generasi ini. Generasi yang sejatinya menjadi penyelamat umat ini.


 

Satu solusi dari problematika ini adalah hijrah (pindah). Hijrah Ma’nawiyah, dalam artian kepindahan kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala menuju perbuatan-perbuatan yang diridhoi-Nya. Hijrah dari melakukan kemaksiatan menuju ketaatan kepada-Nya. Hijrah dari kekufuran dan kesyirikan menuju kemurnian iman kepada Alloh ’Azza wa Jalla. Hijrah dari kemalasan dan kebodohan menuju ghiroh (semangat) untuk senantiasa ber-thullabul ’ilmi (menuntut ilmu). Hijrah dari kebid’ahan menuju kepeduliannya untuk senantiasa menegakkan sunnah. Hijrah dari keengganannya berdakwah menuju semangatnya yang menggebu-gebu untuk senantiasa berdakwah, walaupun hanya satu ayat yang dipahaminya untuk disampaikan.


 

Momentum Tahun Baru Hijriyah sering dijadikan ”materi pamungkas” dalam ceramah-ceramah keagamaan untuk mengajak manusia melakukan hijrah ma’nawiyah. Namun sayangnya, setelah tahun baru tersebut telah lewat, hasil penggemblengan materi tersebut kurang bisa membumi. Seakan hilang tiada berbekas. Manusia kembali kepada aktivitas dan habitat asalnya. Tiada peningkatan kualitas hidup maupun imannya.


 

Sekaranglah saatnya kita berhijrah. Tidak perlu menunggu-nunggu datangnya Tahun Baru Hijriyah. Terlalu lama untuk itu. Karena kita tidak mengetahui, apakah satu menit ke depan sel-sel darah kita masih mendapatkan pasokan oksigen? Apakah satu menit ke depan kita masih bisa bernapas? Apakah satu menit ke depan katup-katup udara di dalam jantung kita masih bergerak? Dan, apakah kita mengetahui bagaimana keadaan akhir hidup kita? Tidak ada yang mengetahui, kecuali hanya Alloh ’Azza wa Jalla. Bagaimana bisa kita merasa aman dengan perbuatan maksiat yang kita lakukan? Maka, saatnya kita berhijrah, sekarang juga!


*Sebagian isi dirangkum dari materi Kajian Ahad Pagi, Masjid Kampus UGM, 9 November 2008.


 

—–

 

Yogyakarta, 9 November 2008 17.35

 

Abu Muhammad bin Yurino At Talukiy

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s