tentang Kekuatan Cinta

Terlepas dari apa gerangan maksud bos kita yang satu ini memposting sebuah puisi yang tak bertuan – NN – itu, apakah lagi sekedar iseng buat meramaikan suasana milist, salah posting atau mungkin….bisa jadi memang lagi mengalami ke-“gundah”-an hati seperti yang digambarkan dalam puisi tersebut. Cie….Tapi, by the way (saudaranya bus way yang selalu on the way-Ifad red), kalau ngomongin soal yang satu ini memang gak bakalan ada matinya, selalu saja ada bahannya, setiap saat, bahkan dari sore hingga pagi pun, kalo sudah ngobrol-ngobrol tentang “menyempurnakan separuh diin”, pasti akan ada saja yang siap dibahas. Tak terkecuali bagi para aktivis sekalipun. Semangat sekali rasanya kalo sudah tanya-tanya, “Kapan, akhi? Jangan lama-lama dong…”. Yang ditanya malah balik bertanya, “Ah, antum dulu dong yang sudah bekerja. Kayaknya lebih siap nih.” Mulak mudheng, muter-muter ora nggenah….

Bagi yang sudah menjalaninya sih, pasti akan senyum-senyum saja melihat fenomena ini.

“Muganeng, gagiyan ya. Ngenteni apa maning sih? Antum belum tau sih ya indahnya karunia ini.” Bikin Hidup Lebih Hidup, katanya.

Sobat, cinta adalah anugerah Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang sungguh indah. Betapa indahnya cinta, sehingga setiap jiwa pasti akan selalu merindukan kedatangannya. Cinta akan membuat hati manusia berbunga-bunga, menggerakkan seluruh jiwa dan jasad, meningkatkan semangat hidup, menjadi pemanis dan hiasan dunia yang paling indah. Maka, sungguh aneh dan tak wajar jika seseorang tidak memiliki rasa cinta, atau meskipun sebenarnya memilikinya, tapi memendamnya, atau memasungnya, yang justru itu akan sangat membahayakannya, baik bagi dirinya maupun orang lain dan dunianya. Akan tetapi, agaknya hampir sebagian besar orang, tak terkecuali juga kawan-kawan kita, para pemuda, kurang memaknai hakikat cinta itu sendiri. Mereka, kebanyakan orang, memandang bahwa cinta adalah sebuah ungkapan perasaan seseorang kepada lawan jenisnya, yang justru diiringi dengan limpahan hawa nafsu, sehingga akhirnya buah dari cintanya itu tergeser jauh dari nilai-nilai kesucian dan kemuliaan. Mereka rela melakukan hal-hal yang justru menodai makna cinta sejati itu sendiri, yang justru anehnya lagi mereka anggap itulah cinta suci. Mereka rela melakukan hal-hal yang tidak disukai-Nya, yang dilarang-Nya. Malang nian nasib mereka. Kita semua memohon perlindungan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar dijauhkan dari segala bentuk cinta yang dilandasi hawa nafsu duniawi.

Lantas, bagaimanakah cinta yang paling suci dan murni itu ? jawabannya hanya satu, cinta yang paling suci dan murni adalah cinta kita kepada Dzat Yang Maha Mencintai, Dzat Yang Maha Indah, Dzat Yang Maha Penyayang, Dialah Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Ya, segala cinta harus ditumpahkan sepenuhnya kepada-Nya, karena Dialah Pemberi Cinta Sejati, Dialah Pemberi Hidup segala makhluk-Nya, dan Dialah Yang Maha Pencemburu manakala hamba-Nya mencintai sesuatu tidak karena-Nya. Maka, sudah sepantasnya bagi kita semua, yang mengaku sebagai hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala, hanya mencintai-Nya.

Realisasi atau bukti kecintaan kita kepada-Nya adalah dengan melakukan segala sesuatu yang disukai-Nya, dan menjauhi segala sesuatu yang dibenci-Nya. Juga, mencintai sesuatu hanya karena-Nya, dan tentunya, membenci sesuatu juga karena-Nya. Inilah makna taqwa, yang Rosululloh, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunnah-sunnah Rosul selalu menjadikannya sebagai pegangan utama di dalam seluruh hidupnya. Sungguh, betapa nikmat dan indahnya cinta yang demikian, cinta yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan, cinta yang tak akan pernah tergoyahkan, cinta yang tak akan pernah lekang dimakan usia, cinta yang membawa pemiliknya menuju surga-Nya.

Oleh karenanya, mari kita semua sama-sama belajar untuk mencintai Alloh, mencintai Rosululloh dan para shahabat, serta mencntai sesuatu hanya karena Alloh, dan membenci sesuatu juga hanya karena Alloh. Melakukan amal-amal kebaikan, terus menerus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita, menjauhi perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat, menahan hawa nafsu, dan memandang sesuatu bukan berdasarkan pandangan keduniaan, akan tetapi atas pandangan keakhiratan, insyaalloh itu semua adalah beberapa hal yang menjadi bukti kecintaan kita kepada-Nya.

Demikian juga dalam hal membangun pondasi rumah tangga. Cinta kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga harus menjadi komponen utamanya. Orang berumah tangga itu tentunya harus kita pahami betul-betul tujuannya, yaitu sebagai sarana beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Gak ada yang lain. Bukan sekedar menuruti hawa nafsu belaka. Makanya, karena tujuannya itu adalah ibadah, maka caranya pun harus sesuai dengan yang digariskan Alloh dan Rosul-Nya. Agar nantinya, di dalam proses maupun kesudahannya adalah penuh dengan kebaikan dan keridhoan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Tak terkecuali pula dalam proses menuju pernikahan. Maaf sekali, kalo bicaranya terlalu dalam, tapi sungguh saya ingin menjelaskan ini kepada kawan-kawan semua agar tahu lebih awal, sehingga nantinya bisa merencanakan dengan sebaik-baiknya tentang hal ini kelak di kemudian hari. Ini bukan masalah yang tabu, bahkan harus sedini mungkin diketahui oleh para remaja, tak terkecuali juga para orang tua, agar ”pandangan-pandangan lama” yang selama ini dipegang orang kebanyakan (bahwa sebelum menikah, harus pacaran dulu, dan itu wajar-wajar aja) dapat sedikit demi sedikit dikikis, digantikan dengan pandangan mulia berdasarkan syari’at Islam tentang bagaimana mengawali sebuah proses pernikahan.

Kembali ke laptop…Ketika saya sedang merenungkan hal ini, maka seketika pikiran saya teringat pada sebuah kisah hidup seorang Zulebid Rodhiyallohu ’Anhu, sahabat Rosululloh Shollallohu ’Alaihi wa Sallam. Sungguh, di dalamnya terkandung banyak sekali nilai dan hikmah. Ada makna ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, wala’ (loyalitas), kepahlawanan, patriotisme, pengabdian, kasiih sayang, dan tentunya, cinta. Cinta yang tumbuh dari hati yang tulus, hati yang bening, cinta yang suci, tanpa noda, tanpa noktah, yang disemai dalam lahan subur keimanan, yang berangkat dari stasiun perubahan, hingga berakhir ke negeri penuh impian orang beriman, al-Jannah. Semoga kita bisa mentadabburi siroh ini, memaknai tentang ”Kekuatan Cinta”, hingga ia terbang bersama kita, bersama kepak sayap elang menuju awan putih bersih di langit yang biru.

*****

Sebuah roman alegoris
——————

Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian…
***
Di kota Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid . Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah . “Coba engkau temui langsung Baginda Nabi , semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.

Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi . Sambil tersenyum beliau berkata: “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah , putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi .

“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan

“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.

” Rasulullah SAW yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.

“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”

Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”

Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah SAW , maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan Rasululloh yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.

Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.

“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.

Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”

Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

***

Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid . Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya…. Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

***
Senja datang,
Angin mendesau, sepi…
Pasir-pasir beterbangan…
Berputar-putar…
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada yang lain.
Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid .
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang dari pelupuk mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.
Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah .
“Wahai Rasulullah , mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”
Jawab Rasul , “Aku menangis karena mengingat Zulebid . Oo.. Zulebid , pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah .
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandanganMu dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi. “Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid , beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid . Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ILLAHI ROBBI, Pencipta segala Maha Karya.
Malam menjelang…
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lambat-lambat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini pabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “
Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.
Istri Zulebid , terdiam.
Matanya basah…
Ada sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
“Suamiku, aku mencintaimu…
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas….
***
Somewhere over the rainbow, way up high
There’s a land that I heard of once on a lullaby
Somewhere over the rainbow, skied are blue
And the dreams that you dare to dream really do come true..
Dan,
Akan kemanakah kumbang terbang
Pada siapa rindu mendendam
Kekasih yang terkasih
Pencinta dan yang dicinta
Semua berurai air mata
Sedih, ataukah bahagia…..?
Salam,Untuk para pengantin bidadari …

nadwahfathon –  myQ Perambah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s