Cukup Dua Pesan Saja

Ada
sebuah kalimat singkat dan sederhana yang diucapkan nenek saya ketika
saya berpamitan untuk magang kerja di Jakarta. Beliau tidak
mengatakan, “Nak, nanti kalau pulang bawa uang yang banyak ya…”
atau mengucapkan, “Semoga nanti kau pulang sudah menjadi ‘orang’
ya…”. Tidak, tidak sama sekali. Justru yang beliau ucapkan
hanyalah, “Nak, bergaullah dengan orang-orang yang baik di sana
(Jakarta-red), dan janganlah kamu pacaran.” Kemudian kalimat itu
beberapa kali beliau ucapkan ketika saya berpamitan lagi dengan
beliau setelah saya pulang kampung saat liburan kantor.

Waktu
itu saya tidak terlalu memperhatikan ucapan nenek tersebut. Saya
menganggapnya sebagai angin lalu saja. Yah, biasalah. Orang tua pasti
akan memberikan wejangan-wejangan tertentu kepada anak atau cucunya
ketika mereka akan pergi jauh. Saya hanya manggut-manggut saja
sembari tak lupa mengulum senyum kepada beliau. Saya tak terlalu
memikirkan esensi kalimat yang dipesankan oleh nenek tersebut. Saya
merasa, toh lingkungan tempat tinggal di sekitar kampus nanti sangat
baik kok, orangnya sholeh-sholeh, rajin pergi ke masjid, para
wanitanya sudah banyak sekali yang memakai jilbab, sedikit sekali
yang berani pacaran secara terang-terangan, dan kebanyakan yang ada
adalah para pasangan muda yang telah menikah. Saya sudah merasa akan
berada di “comfort zone”, jadi gak perlu khawatir. Bahkan, saya
merasa bahwa wejangan nenek saya itu merupakan sebuah pesan yang
terlalu berlebihan bagi seorang “saya”.

Dan
hari demi hari terus berlalu. Dalam kesendirian, kadang saya sering
merenung untuk memikirkan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar,
baik yang berkaitan dengan diri saya sendiri, keluarga di kampung,
kawan-kawan, orang-orang di kantor, atau lingkungan masyarakat tempat
saya tinggal. Tak jarang saya angan saya pun melayang, menafakuri
harapan-harapan masa depan yang sedang saya rencanakan. Hingga
akhirnya, ingatan saya terdampar pada sebuah kalimat yang pernah
dipesankan nenek saya itu.

Nak,
bergaullah dengan orang-orang yang baik di sana, dan janganlah kamu
pacaran.” Sedikit demi sedikit saya mulai merenungi makna dari
kalimat tersebut. Ada dua esensi yang termuat di dalamnya, yaitu
perintah beliau agar saya bergaul dengan orang-orang yang baik (saja)
saat di perantauan dan larangan beliau agar saya tidak menjalin
hubungan asmara tak sah berjudul pacaran. Subhanalloh! Saya trenyuh,
kawan.

Betapa
tidak, ketika kita sedang bergulat dengan berjuta aktivitas kehidupan
di tanah perantauan, maka kita akan dihadapkan dengan berbagai jenis
orang yang memiliki sifat, watak dan karakter yang beragam. kita
harus pandai-pandai memilih teman bergaul. Karena ialah yang juga
akan turut membentuk karakter dan sifat kita di daerah yang ”baru”
tersebut. Ibarat kita berdekat-dekatan dengan penjual minyak wangi,
maka besar kemungkinan kita akan terkena aroma wanginya. Begitu pula
seandainya kita berdekat-dekatan dengan tukang pandai besi, maka
setidaknya kita juga akan mendapatkan aroma ”sangit” hasil
pembakaran.

Sesungguhnya,
hanya orang-orang yang berimanlah yang layak menjadi teman bergaul
kita. Mereka adalah orang-orang yang baik dalam arti sebenarnya.
Mereka adalah orang-orang yang akan menemani kita dalam kesendirian,
menjadi partner kita dalam beramal sholih, memberikan nasehat-nasehat
berharga, mencontohkan akhlaq yang mulia dan menunjukkan kita pada
jalan yang lurus seperti layaknya orangtua menasehati anaknya di saat
ia berbuat salah dan khilaf. Mereka adalah orang-orang yang akan
menjadi tempat bagi kita untuk mencurahkan segala keluh kesah, gundah
gulanah, dan mau memahami permasalahan-permasalahan yang kita hadapi.
Mereka adalah orang-orang yang selalu siap membantu dengan penuh
keikhlasan di saat kita membutuhkan pertolongan. Mereka adalah
sebaik-baik teman yang akan mengantarkan kita mendapatkan keselamatan
di dunia maupun di akhirat. Bertemu dan bergaul dengan mereka adalah
sebuah karunia besar yang Alloh Ta’ala limpahkan bagi kita.

Nak,
janganlah kamu pacaran.” Pesan ini begitu singkat, tapi penuh
makna. Betapa tidak, hidup di perantauan dalam kesendirian dan jauh
dari orang tua membutuhkan kesabaran dan keistiqomahan yang luar
biasa. Begitu banyak godaan yang dihadapi, baik berupa kejahatan,
kemaksiatan, harta, jabatan, lingkungan yang kurang baik, hingga
wanita bertebaran di sekeliling kita. Banyak di antara
saudara-saudara kita yang telah terjebak dalam hubungan tak sah
dengan lawan jenisnya (pacaran). Mereka menganggapnya sebagai sebuah
aktivitas ”penjajakan” dengan dalih untuk mengetahui sifat lawan
jenisnya tersebut, padahal sesungguhnya hal itu merupakan suatu
bentuk kepengecutan dan kekerdilannya sendiri. Pacaran (sebelum
pernikahan) adalah salah satu bentuk kemunafikan spiritual dan sosial
terbesar yang pernah ada. Ketika melihat gaya hidup dan cara bergaul
yang telah jauh dari nilai-nilai Islam di tanah perantauan, saya
hanya mampu beristighfar dan memohon perlindungan kepada Alloh
Ta’ala.

Dari
perenungan ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga dari dua
pesan nenek saya itu. Ya, memang cukup dua pesan. Namun, esensinya
begitu mendalam dan bermanfaat. Saya jadi makin tersadar, bahwa
sesungguhnya ketika saya sedang sibuk menjalani hari-hari dengan
berbagai macam aktivitas, maka keluarga di kampung sedang menaruh
harapan yang sangat besar kepada saya untuk menjadi orang yang
terbaik dalam hidupnya. Keluarga tidak terlalu memikirkan apakah
kelak saya menjadi orang yang paling kaya atau paling tinggi
jabatannya, tapi lebih dari itu semua keluarga mengharapkan agar saya
menjadi orang yang selamat di dunia dan dia akhirat, serta mulia di
sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Maka, bagimana saya akan
mengkhianati amanah ini? Dan saya pun sadar, bahwa sesungguhnya Alloh
Ta’ala senantiasa memperhatikan segala gerak-gerik saya. Maka,
bagaimana saya akan berbuat kemaksiatan dan pelanggaran?

Akhirnya
saya mengerti bahwa ada beberapa hal yang harus saya lakukan untuk
itu semua. Saya harus terus belajar, menuntut ilmu agama sebagai
bekal utama dalam menapaki hari-hari saya itu, kemudian mengamalkan
apa yang telah saya pelajari tersebut, dan tak lupa saya juga harus
menularkan ilmu saya itu kepada orang-orang di sekitar saya, agar
orang-orang di sekitar saya menjadi orang-orang yang selamat di dunia
dan dia akhirat, serta mulia di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala
juga. Dan sebagai pendukung itu semua, maka saya harus mampu bersabar
dalam menjalani itu semua, menghadapi berbagai cobaan dan gangguan
dalam belajar, beramal dan berda’wah di jalan Alloh Ta’ala. Ya
Robb, berikanlah kekuatan kepada hamba untuk bisa menjalankan segala
perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu, di manapun dan kapan
pun…

Jurangmangu
Timur, 17 Mei 2008 at 22.25

Advertisements

3 thoughts on “Cukup Dua Pesan Saja

  1. admin_math

    maaf jika isi pesan berikut mengganggu aktivitas kamu.. aku cuma mau kasih tau aja, ada sebuah situs social bookmarking yang berisi kumpulan berita-berita menarik yang paling update diseluruh indonesia,dan memang situs ini berbasis bahasa indonesia… klo nggak keberatan tolong cek situs ini yah.. semoga bermanfaat..

    >>> http://www.lintasberita.com

    coba di share aja semua tulisan km di situs itu ,mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini ,keep up the good post ok.. btw.. ever thought bout adding lintasberita’s widget?? cek disini aja yah

    >>> http://www.lintasberita.com/tools.php

    thanks…. sory klo keliatannya spamming.. but seriously… im just helping you out here…

  2. evanbumiayu

    @ admin_math

    terima kasih banyak mas admin atas informasinya..

    insya alloh nanti akan saya coba… ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s