Faktor N

Apa yang sering ditanyakan kepada seseorang yang telah lulus kuliah? Kita bermain survei kecil-kecilan, yuk!

Bagaimana seminarnya? Gimana rasanya pendadaran atau ujian kompre, menyenangkan atau malah bikin kepala pusing tujuh keiling, disertai jantung berdebar tak karuan? Atau, mau kerja di mana? Mau buka usaha apa? Oh ya, mau lanjut kuliah di mana?

Berdasarkan hasil survei dan observasi yang dilakukan oleh saya sendiri terhadap sejumlah responden dari berbagai latar belakang pendidikan, karakter dan lifestyle, pertanyaan I mendapat porsi sekitar 5%, disusul pertanyaan II 7%, pertanyaan III 15%, pertanyaan IV 10% dan pertanyaan terakhir 13%. Lho, kok gak pas 100%? Tenang, ada satu pertanyaan yang masih belum di-publish, dan ternyata pertanyaan ini malah mendapat porsi yang cukup besar di kalangan muda-mudi lulusan kuliahan, bahkan yang belum lulus sekalipun. 50%. Mau tau?

Seorang adik tingkat saya kebetulan masih kuliah. Baru semester dua. Lagi semangat-semangatnya mencari jati diri, ilmu dan pengalaman. Mungkin karena sering membaca artikel, buku atau mengikuti kajian-kajian yang bertemakan “Faktor N”, jadinlah ia seseorang yang sering berangan-angan untuk menuju “ke sana”. Apalagi ditambah kegandrungannya pada nasyid-nasyid yang bertemakan Faktor N itu. Yang mendayu-dayu, membuat alam pikirannya melesat jauh ke angkasa di langit yang biru.

Ada teman saya juga. Usianya sudah cukup matang, dua puluh tujuh tahun lebih sedikit. Dia sering curhat sama saya. Kenapa si “dia” tak kunjung tiba? Sudah berusaha berikhtiar beberapa kali, tapi hasilnya masih nihil. Akhirnya, dalam kesendiriannya ia sering menghibur dirinya dengan mendengarkan nasyid-nasyid yang bertemakan Faktor N itu juga. Mendayu-dayu. Membuat hatinya makin menangis, jiwanya sedikit-demi sedikit mulai rapuh, apalagi kalau mendengar ada rekannya yang menuju “ke sana”. Oalah…saya pernah sarankan dia untuk tetap bersabar dan terdoa, memohon kepada Alloh Taála agar diberikan jalan yang terbaik baginya. Saya katakan juga bahwa hentikan nasyid-nasyid yang mendayu-dayu itu, gantilah dengan menyimak murottal Al Quran, atau bisa diselingi dengan mendengarkan nasyid-nasyid yang hard rock’y (semoga saya tidak dikatakan sebagai golongan harokiyyun dan hizbiyyun yang berkonotasi negatif itu), agar hatinya makin kuat, jiwanya makin bersemangat.

Saya juga korbannya. Korban pertanyaan tentang Faktor N itu. Tak lama setelah saya lulus kuliah, pertanyaan yang satu ini sering terlontar dari rekan-rekan dekat atau saudara-saudara saya. Apalagi akhir-akhir ini, frekuensinya makin kuat dan santer. Sahabat-sahabat terdekat saya lagi-lagi bertanya tentang Faktor N kalau pas telepon, sms, kirim comment di fs atau email. Teman-teman saya yang telah mendahului saya menuju ”ke sana” juga tak mau kalah dalam mengkompor-kompori. Wah, pussiiiing….

Sesungguhnya, saya bukanlah orang yang antipati terhadap Faktor N ini. Justru saya sangat senang sekali kalau ada teman atau siapa saja yang telah siap dan berniat untuk menuju ”ke sana”. Siapa sih yang tak mau mendapatkan kesempurnaan separuh diin, pahala jihad fii sabilillah dengan tidak maju ke medan perang, ketenangan, kebahagiaan dan ketentraman hidup? Siapa sih yang tidak mau memiliki belahan jiwa, teman sejati yang akan selalu siap dua puluh empat jam setiap hari menjadi tempat curahan hati kita dalam suka maupun duka? Sungguh kebahagiaan yang begitu indah, nikmat yang begitu besar dan kebaikan yang Alloh Taála turunkan kepada kita ketika kita bisa mencapai dan menjalani Faktor N itu. Dan saya pun tentu berharap mudah-mudahan segera didekatkan dengan karunia ini, sedekat-dekatnya.

Namun, itu semua butuh proses. Butuh persiapan. Dan juga, butuh waktu. Ada perencanaan-perencanaan yang harus dibuat. Ibarat orang mendirikan sebuah gedung, butuh persiapan-persiapan yang matang mulai dari pembuatan gambar teknik, perencanaan tenaga kerja dan biaya, pembuatan pondasi, hingga proses finishing dan pengujian kelayakan gedung. Faktor N bukan hanya sekedar bahan pertanyaan yang biasa-biasa saja, tetapi seharusnya menjadi pertanyaan yang bernilai istimewa.

Mendirikan bangunan gedung tidaklah semudah membuat gubuk bambu di tengah sawah. Ia harus tahan terhadap berbagai ancaman gempa, angin topan, badai dan berbagai macam depresiasi. Perlu pondasi dengan konstruksi dan tiang pancang yang kuat. Perlu dinding yang tebal dan kokoh. Perlu atap yang tahan terhadap panas dan hujan dalam waktu yang cukup lama, kalau bisa sampai akhir zaman. Dan tentunya, perlu desain interior dan eksterior yang indah, agar para penghuni gedung pun merasa betah dan nyaman tinggal di dalamnya. Mereka bisa bekerja dengan baik dan optimal untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia. Bahkan, seharusnya produk-produk mereka bisa menguasai pangsa pasaran dunia.

Penasaran dengan Faktor N?

Faktor N adalah faktor nikah, dalam artian sebuah pembicaraan tentang pernikahan. Dan saya menganalogikan pernikahan dengan proses pendirian bangunan gedung. Pondasinya adalah Aqidah. Dindingnya adalah Islam. Atapnya adalah Ihsan. Para penghuninya adalah diri kita, istri dan anak-anak kita. Ketika kita bisa membangun mahligai rumah tangga yang ditopang dengan kuatnya hujaman Aqidah, kokohnya jiwa Islam dan tahannya pemahaman Ihsan, maka insyaAlloh keluarga kita akan menjadi the agent of change dari umat ini. Rumah tangga yang dari setiap pintu rumahnya akan menebarkan rahmat bagi semesta alam.

Semoga, saya dan Anda semua bisa merealisasikan cita-cita ini. Cita-cita untuk menyegerakan Faktor N; cita-cita untuk membangun bangunan gedung ”rumah tangga” yang kuat, kokoh dan tahan; serta cita-cita untuk menebarkan rahmat bagi semesta alam.

Dan, kini tibalah saya mem-publish pertanyaan yang mendapatkan porsi 50% dalam survei kecil-kecilan yang saya lakukan. Semoga Anda pun bisa segera ikut menjawabnya. Kapan Anda menikah?

Yogyakarta, 11 Agustus 2008 at 22.50

Advertisements

One thought on “Faktor N

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s