Tega Nian Dikau Seorang

Oleh: Evan Rizaldhi

Tega! Sungguh tega kau ini. Kulihat dengan mata kepalaku sendiri, kau telah melakukannya. Kau telah berbuat seperti itu, tanpa rasa malu dan canggung, di depanku, di hadapanku. Wahai, mengapa kau begitu? Aku kecewa…aku kecewa…huk..huk..huk…

Duh…aduh..aduh..aduh…tragis kali ya nasibnya kalo kita mengalami hal seperti ini. Melihat si dia berbuat “sesuatu” persis di hadapan kita, tanpa ba-bi-bu dan tanpa rasa malu. Seolah tiada harapan lagi. Dunia ini makin terasa sesak, sempit, mangkel…

Eit..eits…jangan berpikir yang bukan-bukan dulu…Ini bukan masalah hubungan antara aku dan si “dia”. Tapi hanya sebuah ungkapan perasaanku, yang aku alami kira-kira sepekan yang lalu

*****

Rabu malam. Setelah mengikuti acara buka puasa bersama di daerah Kalisalak, aku segera meluncur ke arah Masjid Agung Bumiayu. Aku berharap masih bisa mendapatkan sholat jama’ah di sana, meski kalau pun tidak bisa, setidaknya kenikmatan sholat fardhu di masjid masih bisa aku dapatkan.

Dan benar saja, tarawih sudah dimulai! Gak tau udah sampai berapa roka’at. Kulihat para jama’ah semangat sekali mengikuti gerakan sang imam ketika beliau mengucapkan takbir tanda pergantian menuju gerakan ruku’. Allohu akbar…

Aku segera berwudhu. Lalu, kuletakkan jaket kesayanganku ini di depanku sebagai pembatas tempat sujudku, agar orang lain tak bisa seenaknya lalu lalang di depanku saat sholat. Dan aku memilih sayap selatan masjid sebagai tempatku memenuhi seruan-Nya, memadu cinta dengan-Nya, Isya. Hingga aku merampungkannya, disambung dengan untaian dzikir dan doa-doaku, serta tak lupa juga sunnah ba’diyahnya. Maka, setelah itu semuanya, sejenak aku beristirahat dengan tanpa menggeserkan tempat dudukku.

Kulihat ke sekeliling luar masjid, serambi selatan dan sekitar tempat wudhu. Ada beberapa anak muda yang sedang sholat sendiri-sendiri. Ada juga segerombol anak kecil yang sedang ikut tarawih, tapi sambil crengas crenges, senggol sana senggol sini. Ada juga yang lagi asyik ngobrol atau duduk-duduk, sambil sesekali lirak lirik ke sekitarnya. Atau di dalam masjid yang sedang khusyuk melaksanakan tarawih, ini yang paling banyak. Sekitar sembilan shof terdepan penuh. Di belakangnya masih ada shof tapi bolong-bolong, makin ke belakang kok makin habis, hingga akhirnya di tengah-tengah masjid kulihat kosong. Ada juga yang memilih bagian pinggir, kanan atau kiri buat mengikuti tarawih. Yang deket-deket tiang masjid juga ada. Dan ketika kuarahkan pandangan ke bagian belakang, wow…ternyata ada shof lagi! Sekitar empat shof. Agak penuh juga….

Keasyikanku melihat ke sekeliling segera terhenti ketika di hadapanku berdiri empat “bujang tanggung”, yang satu berdiri di depan, sedangkan yang tiga berjejer di belakangnya. Oh…mereka ini mau sholat berjama’ah. Tapi, sholat apa ya? Ah, mungkin tarawih. Dan kulihat si bujang tanggung yang jadi imam ini meletakkan ponsel di depannya, diikuti tiga kawannya yang melakukan hal serupa. Jadi, ada empat ponsel yang diletakan persis di depan sang imam. Dan aku masih saja melihat-lihat mereka.

Beberapa saat kemudian mereka telah menyelesaikan roka’at pertama. Kulihat ada satu orang bujang tanggung lagi yang berjalan mengendap-endap di dekat mereka, tepatnya ke arah ponsel itu. Dia memakai T-shirt biru dengan celana levis hitam tiga perempat. Sejenak dia melirik ke arahku sambil terus berjalan pelan. “Ah, paling dia mau ikut jadi makmum, sholat bareng mereka,” pikirku.

Belum sempat aku mengakhiri pikiranku, secepat kilat tangan si anak tadi telah menyambar sebuah ponsel di hadapan keempat anak yang sedang sholat tersebut, dan langsung kabur bak angin berkecepatan 500 km/jam ke arah barat masjid, melewati pintu kecil dan lorong-lorong sempit. Serta merta keempat anak yang sedang sholat ini langsung berbalik dan mengejar alap-alap tadi. Aku nglegeg!

Astaghfirulloh…tega banget sih anak ini! Orang lagi enak-enaknya sholat, kok dicuri ponselnya,” kata-kataku di dalam hati terus terngiang-ngiang. Yang lebih menjengkelkan lagi, dia melakukannya persis di depan mataku tanpa rasa malu, pakewuh atau canggung, serta sempat melirik ke arahku sesaat sebelum dia melancarkan aksinya. Hfff….

Beberapa menit kemudian, seorang anak yang kehilangan ponselnya itu kembali menemuiku. ”Anaknya kayak apa, mas?” tanyanya. “Dia pake kaos biru, celana tiga perempat, seumuran kamu lah. larinya ke sana,” jawabku sambil menunjuk ke arah pintu gerbang barat masjid. Bergegas dia berlari ke arah yang aku tunjukkan.

Beberapa saat kemudian, keempat anak tadi datang menanyakan hal yang sama. Agaknya sang alap-alap telah sukses dengan aksinya. Empat bujang tanggung itu tak berhasil mengejar sang alap-alap. Dengan muka kecewa plus penasaran, akhirnya mereka berjalan ke halaman masjid dan pergi.

Ya Alloh. Mengapa di tempat yang suci ini masih saja ada orang-orang yang tega berbuat nista? Mengambil barang orang lain yang bukan haknya dengan tanpa rasa malu, ragu-ragu, apalagi rasa berdosa! Ampunilah dosanya, ya Alloh…Sadarkanlah ia! Kembalikanlah ia ke jalan yang benar, sehingga Romadhon ini menjadi saat yang terbaik baginya untuk mendapatkan hidayah-Mu. Dan ampunilah dosa-dosa hamba-Mu yang tak berdaya ini, ya Robb. Yang tidak mampu berbuat apapun untuk menolong mereka, yang tidak mampu melakukan apapun tanpa seizin-Mu…

Segera aku menuju serambi depan masjid. Di sana ada pak satpam yang tengah berjaga. “Pak, tadi ada yang kemalingan ha-pe. Ceritanya begini,” laporku sambil menceritakan kejadian yang baru saja kulihat.

Itu mah sudah biasa, mas. Salahnya yang punya ha-pe. Ngapain juga ha-pe ditaruh di depan, di lantai. Kok gak di-sak aja?” jawab pak satpam. Iya, ada benarnya juga. Kenapa si ponsel gak dikantongin aja ya? Tapi, yang namanya musibah ya tetap musibah. Kitanya aja yang harus introspeksi diri. Menerungi, kenapa Alloh menimpakan hal seperti itu pada kita? Dengan demikian kita menjadi sadar tentang apa yang harus kita lakukan agar di masa mendatang hal tersebut tidak kita alami kembali.

Dan masih dengan bayang-bayang peristiwa tadi, aku berjalan ke tempat parkir menuju motorku. Tarawih baru saja selesai. Puluhan atau mungkin ratusan orang: tua, muda, besar, kecil, laki-laki, perempuan, serempak keluar dari masjid. Ramai sekali. Mereka berjalan menuju pelataran, jalan raya, trotoar, atau bahkan ada yang masih duduk-duduk di serambi masjid. “Inilah sebagian umat Bumiayu,” gumamku dalam hati.

Segera kutancap gas. Meluncur ke arah utara jalanan kota Bumiayu hingga sampai ke rumahku di sebuah dusun kecil nan tenang, Talok. Dan ternyata, tarawih dari sebuah musholla tempat biasa aku sholat baru saja bubar. Kulihat orang-orang baru “turun” dari musholla. Wow…musholla-ku yang sebelas roka’at baru saja rampung!

Talok, 27 Romadhon 1428 H, 9 Oktober 2007, 07.15

Advertisements

2 thoughts on “Tega Nian Dikau Seorang

  1. di mushola sini, biarpun sudah dipasang cctv, tetep aja ada yang kehilangan hape… yang ngambil ketauan sih, tapi ya gak ketangkep juga..

    hh,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s