Sebuah Curhat tentang Amanah

Saya jadi teringat sebuah tabloid berlabel Haji milik salah seorang saudara saya yang asli Kalisumur dan lagi tinggal di Ciputat. Ketika saya sedang berkunjung ke sana, saya sempat membaca salah satu rubrik di tabloid tersebut yang bercerita tentang profil seorang Bupati Bekasi yang beberapa waktu yang lalu baru saja terpilih. Dalam rubrik tersebut, diceritakan hasil wawancara wartawan dengan Pak Bupati. Isinya bagi saya cukup menarik, karena mengisahkan tentang bagaimana sepak terjang sang bupati terpilih selama ini dan pandangan beliau tentang sebuah jabatan bernama “bupati”.

Salah satu hal yang membuat saya bisa mengacungkan jempol kepada beliau adalah Pak Bupati kini punya kebiasaan baru yang tak lazim di negeri kita dan mungkin amat sangat sedikit sekali para pejabat melakukannya, yaitu beliau melakukan sholat shubuh keliling ke desa-desa secara bergiliran. Dengan hanya membonceng motor bersama seorang rekannya tanpa ada ajudan atau protokoler apapun, beliau berusaha mendatangi masjid-masjid di desa-desa untuk “sekedar” sholat shubuh berjamaah dengan warga. Menurut beliau, hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi masyarakatnya secara langsung dari dekat, sehingga dengan begitu beliau bisa merasakan sendiri apa yang menjadi keluhan warganya dan mampu mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada secara langsung. Tak jarang, warga masyarakat tidak mengetahui bahwa yang datang ke masjidnya adalah Pak Bupati. Ketika beliau ditanya kenapa tidak bersama ajudan atau protokoler, beliau menjawab hal itu agar ia bisa lebih dekat dengan rakyatnya tanpa ada penghalang apapun. Hmm…pejabat-pejabat kita di atas sana ada lagi yang kayak gitu gak ya?

Ketika beliau ditanya tentang jabatan “bupati”, beliau menjawab kira-kira seperti ini, “Jabatan saya ini adalah sebuah amanah dari Alloh SWT. Ketika rakyat mempercayakannya kepada saya, maka saya harus menjalankannya dengan sebaik-baiknya karena kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.” Subhanalloh! Hal inilah yang kemudian mendorong beliau untuk ”turun gunung” secara rutin kepada warga-warganya itu.

Lain lagi ceritanya dengan Pak Menteri yang satu ini. Pria yang murah senyum ini kini tengah duduk sebagai Menteri Pertanian RI. Beliau juga tak kalah dekatnya dengan warga. Setidaknya, ketika wartawan kampus saya ingin mengadakan wawancara dengan beliau (seperti diberitakan di Koran Civitas STAN beberapa waktu lalu) di rumah pribadinya di daerah luar Jakarta, wartawan muda tersebut berpikir pasti akan banyak prosedur dan protokoler yang harus dilaluinya. Maklum, untuk orang sekelas menteri pasti sibuknya bukan main. Lha wong kadang kalo kita mau ketemu “kyai” aja di desa-desa harus nunggu dulu sampe berjam-jam ??? Oh….ternyata sang kyai sedang istirahat/tertidur, padahal urusannya sangat penting dan gawat (ini pernah saya alami sendiri). Ternyata, dugaan wartawan muda tersebut salah. Tidak ada prosedur dan protokoler rumit yang harus dilaluinya. Di suasana pagi yang cerah, Pak Menteri tersebut bersedia untuk diwawancarai (ini hanya koran kampus lho, bukan koran sekelas Tempo, Kompas, atau Sindo) dengan sambutan yang sangat baik. Beliau bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan sejumlah informasi yang ditanyakan. Nah lo !!! Lantas, apakah pemimpin yang kita elu-elukan juga memiliki sikap sama seperti beliau-beliau tadi ???

Seringkali kita mengidolakan seorang pemimpin, pejabat, tokoh atau yang sebangsanya hanya karena dorongan nafsu kita, emosi kita, atau mungkin juga ketidaktahuan kita. Kebenaran yang bersifat umum dan dapat diterima logika sebagai syarat seorang pemimpin ideal terkadang dikalahkan oleh opini-opini kita yang kurang tepat, maka jadilah para pemimpin bangsa kita sekarang ini adalah orang-orang yang kurang mampu memperhatikan kesejahteraan rakyat. Kriteria seorang pemimpin yang baik adalah jujur, amanah, peduli, sederhana, cerdas dan memiliki kedekatan dengan Sang Pencipta. Kebenaran umum dan logika pasti akan mengaminkan kriteria-kriteria ini. Pemimpin yang baik bukanlah orang yang hanya pandai bicara dan berargumen, atau orang yang punya banyak massa dan harta. Cukuplah kita bercermin pada diri Rosululloh saw, pemimpin umat manusia dan para nabi.

Pernahkah kita berpikir bagaimana seorang Rosululloh saw, kepala negara sekaligus panglima perang, memiliki rumah yang sangat sederhana, kecil dan hanya terbuat dari batu ? Pernahkah kita berpikir bahwa beliau dan keluarganya sering berpuasa hanya karena jarang memiliki makanan ? Pernahkah terlintas dalam benak kita semua bahwa beliau senantiasa berbuat baik kepada para tetangganya, menolong orang miskin, mengucapkan salam kepada anak-anak dan orang-orang tua ? Atau, sikap beliau yang tidak suka apabila para sahabatnya berdiri dari duduknya ketika beliau datang (seperti penghormatan para punggawa kerajaan kepada rajanya) ? Dan sebuah kisah fenomenal, bagaimana sikap Rosululloh saw ketika Ukasyah ra meminta agar ia mencambuk tubuh beliau dalam keadaan baju yang terbuka karena saat berperang, Nabi saw tak sengaja mencambuk tubuh Ukasyah ra ? Nabi saw dengan senang hati mempersilakan Ukasyah ra untuk mencambuknya sementara para sahabat sangat geram dan marah ? Subhanalloh !

Rosululloh saw juga manusia. Sikap dan akhlaq beliau sesungguhnya bisa ditiru dan dimiliki oleh kita semua, karena beliau diutus sebagai suri tauladan yang agung. Juga bagi para pemimpin, sebenarnya mereka bisa (dan harus) memiliki akhlaq seperti itu, karena konsekuensi bagi seorang pemimpin sangatlah berat. Ia kelak akan dimintai pertanggungjawabannya tentang kepemimpinannya itu. Bagaimana kelak di akhirat ia akan menjawab pertanyaan Alloh swt, sementara di dunia ia masih suka korupsi, hidup bermewah-mewahan, sombong, rakus, jauh dari amal ibadah dan suka menyengsarakan rakyat ? Na’udzubillah….

Jabatan dan kepemimpinan hanyalah layak dipegang oleh orang-orang yang bertaqwa kepada Alloh swt. Sungguh, jika jabatan dan kepemimpinan di negeri ini, mulai dari kepresidenan, anggota DPR-MPR, menteri, kepala daerah, PNS, swasta sampai kepada rakyat dimiliki oleh orang-orang yang kembali kepada Alloh swt, pasti negeri ini akan menjadi negeri yang adil, makmur, sejahtera dan diridhoi Alloh swt. Kita adalah penerus bangsa ini, harapan umat ini. Tak selayaknya kita lari dari tanggung jawab ini, akan tetapi kita harus masuk ke dalamnya, memperbaiki kebobrokan sistem dan orang-orangnya, dengan senantiasa berpegang pada tali (agama) Alloh, hingga kita hidup mulia atau mati sebagai syuhada. Begitu ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s