Mengenal Kalender Hijriyah

dari http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg04113.html

oleh Irfan Anshory

Sampai awal abad ke-20 kalender Hijriah masih dipakai oleh kerajaan-kerajaan
di Nusantara. Bahkan Raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu,
dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Otto van Rees
yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh 1313 Hijriah (1894 Masehi).
Kalender Masehi baru secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun
1910 dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang
menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda.

Jenis kalender

Ada tiga jenis kalender yang dipakai umat manusia penghuni planet ini.

Pertama, kalender solar (syamsiyah, berdasarkan matahari), yang waktu satu
tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari yaitu 365 hari

5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari.

Kedua, kalender lunar (qamariyah, berdasarkan bulan), yang waktu satu
tahunnya adalah dua belas kali lamanya bulan mengelilingi bumi, yaitu

29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari = 1 bulan) dikalikan dua
belas, menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari.

Ketiga, kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan
matahari. Oleh karena kalender lunar dalam setahun 11 hari lebih cepat dari
kalender solar, maka kalender lunisolar memiliki bulan interkalasi (bulan
tambahan, bulan ke-13) setiap tiga tahun, agar kembali sesuai dengan
perjalanan matahari.

Kalender Masehi, Iran, dan Jepang merupakan kalender solar, sedangkan
kalender Hijriah dan Jawa merupakan kalender lunar. Adapun contoh kalender
lunisolar adalah kalender Imlek, Saka, Buddha, dan Yahudi.

Semua kalender tidak ada yang sempurna, sebab jumlah hari dalam setahun
tidak bulat. Untuk memperkecil kesalahan, harus ada tahun-tahun tertentu
menurut perjanjian yang dibuat sehari lebih panjang (tahun kabisat atau leap
year).

Pada kalender solar, pergantian hari berlangsung tengah malam

(midnight) dan awal setiap bulan (tanggal satu) tidak tergantung pada posisi
bulan. Adapun pada kalender lunar dan lunisolar pergantian hari terjadi
ketika matahari terbenam (sunset) dan awal setiap bulan adalah saat
konjungsi (Imlek, Saka, dan Buddha) atau saat munculnya hilal (Hijriah,
Jawa, dan Yahudi). Oleh karena awal bulan kalender Imlek dan Saka adalah
akhir bulan kalender Hijriah, tanggal kalender Imlek dan Saka umumnya sehari
lebih dahulu dari tanggal kalender Hijriah.

Arab Pra-Islam

Sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w., masyarakat
Arab memakai kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan
dengan matahari. Tahun baru (Ra's as-Sanah = "Kepala

Tahun") selalu berlangsung setelah berakhirnya musim panas sekitar
September. Bulan pertama dinamai Muharram, sebab pada bulan itu semua suku
atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan peperangan.

Pada bulan Oktober daun-daun menguning sehingga bulan itu dinamai Shafar
("kuning"). Bulan November dan Desember pada musim gugur

(rabi') berturut-turut dinamai Rabi'ul-Awwal dan Rabi'ul-Akhir.

Januari dan Februari adalah musim dingin (jumad atau "beku") sehingga
dinamai Jumadil-Awwal dan Jumadil-Akhir. Kemudian salju mencair

(rajab) pada bulan Maret.

Bulan April di musim semi merupakan bulan Sya'ban (syi'b = lembah), saat
turun ke lembah-lembah untuk mengolah lahan pertanian atau menggembala
ternak. Pada bulan Mei suhu mulai membakar kulit, lalu suhu meningkat pada
bulan Juni. Itulah bulan Ramadhan ("pembakaran") dan Syawwal
("peningkatan"). Bulan Juli merupakan puncak musim panas yang membuat orang
lebih senang istirahat duduk di rumah daripada bepergian, sehingga bulan ini
dinamai Dzul-Qa'dah (qa'id = duduk).

Akhirnya, Agustus dinamai Dzul-Hijjah, sebab pada bulan itu masyarakat Arab
menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim a.s.

Setiap bulan diawali saat munculnya hilal, berselang-seling 30 atau 29 hari,
sehingga 354 hari setahun, 11 hari lebih cepat dari kalender solar yang
setahunnya 365 hari. Agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari dan agar
tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka dalam setiap periode 19
tahun ada tujuh buah tahun yang jumlah bulannya 13 (satu tahunnya 384 hari).
Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini disebut nasi' yang ditambahkan pada
akhir tahun sesudah Dzul-Hijjah.

Ternyata tidak semua kabilah di Semenanjung Arabia sepakat mengenai
tahun-tahun mana saja yang mempunyai bulan nasi'. Masing-masing kabilah
seenaknya menentukan bahwa tahun yang satu 13 bulan dan tahun yang lain cuma
12 bulan. Lebih celaka lagi jika suatu kaum memerangi kaum lainnya pada
bulan Muharram (bulan terlarang untuk berperang) dengan alasan perang itu
masih dalam bulan nasi', belum masuk Muharram, menurut kalender mereka.
Akibatnya, masalah bulan interkalasi ini banyak menimbulkan permusuhan di
kalangan masyarakat Arab.

Pemurnian kalender "lunar"
Setelah masyarakat Arab memeluk agama Islam dan bersatu di bawah pimpinan
Nabi Muhammad s.a.w., maka turunlah perintah Allah SWT agar umat Islam
memakai kalender lunar yang murni dengan menghilangkan bulan nasi'. Hal ini
tercantum dalam kitab suci Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 36 dan 37.

Dengan turunnya wahyu Allah di atas, Nabi Muhammad s.a.w. mengeluarkan
dekrit bahwa kalender Islam tidak lagi bergantung kepada perjalanan
matahari. Meskipun nama-nama bulan dari Muharram sampai Dzul-Hijjah tetap
digunakan karena sudah populer pemakaiannya, bulan-bulan tersebut bergeser
setiap tahun dari musim ke musim, sehingga Ramadhan

("pembakaran") tidak selalu pada musim panas dan Jumadil-Awwal ("beku

pertama") tidak selalu pada musim dingin.

Mengapa harus kalender lunar murni? Hal ini disebabkan agama Islam bukanlah
untuk masyarakat Arab di Timur Tengah saja, melainkan untuk seluruh umat
manusia di berbagai penjuru bumi yang letak geografis dan musimnya
berbeda-beda. Sangatlah tidak adil jika misalnya Ramadhan (bulan menunaikan
ibadah puasa) ditetapkan menurut sistem kalender solar atau lunisolar, sebab
hal ini mengakibatkan masyarakat Islam di suatu kawasan berpuasa selalu di
musim panas atau selalu di musim dingin.

Sebaliknya, dengan memakai kalender lunar yang murni, masyarakat Kazakhstan
atau umat Islam di London berpuasa 18 jam di musim panas, tetapi berbuka
puasa pukul empat sore di musim dingin. Umat Islam yang menunaikan ibadah
haji pada suatu saat merasakan teriknya matahari Arafah di musim panas, dan
pada saat yang lain merasakan sejuknya udara Mekah di musim dingin.

Perhitungan Tahun Hijriah
Pada masa Nabi Muhammad s.a.w. penyebutan tahun berdasarkan suatu peristiwa
yang dianggap penting pada tahun tersebut. Misalnya, Nabi Muhammad s.a.w.
lahir tanggal 12 Rabi'ul-Awwal Tahun Gajah ('Am al-Fil), sebab pada tahun
tersebut pasukan bergajah, Raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang Ka'bah.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. wafat tahun 632, kekuasaan Islam baru meliputi
Semenanjung Arabia. Tetapi pada masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644)
kekuasaan Islam meluas dari Mesir sampai Persia.

Pada tahun 638, Gubernur Irak Abu Musa al-Asy'ari berkirim surat kepada
Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain: "Surat-surat kita
memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat
Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun."

Khalifah Umar bin Khattab menyetujui usul gubernurnya ini.

Terbentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam
Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib,
Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair
bin Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun Satu dari kalender
yang selama ini digunakan tanpa angka tahun. Ada yang mengusulkan
perhitungan dari tahun kelahiran Nabi ('Am al-Fil, 571 M), dan ada pula yang
mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama ('Am al-Bi'tsah, 610 M).
Tetapi akhirnya yang disepakati panitia adalah usul dari Ali bin Abi Thalib,
yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Mekah ke Madinah ('Am al-Hijrah,
622 M).

Ali bin Abi Thalib mengemukakan tiga argumentasi. Pertama, dalam Al-Quran
sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah (al-ladzina
hajaru). Kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud
setelah hijrah ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan
selalu memiliki semangat hijriah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada
suatu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik.

Maka Khalifah Umar bin Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah
Nabi adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut
Tarikh Hijriah. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriah bertepatan dengan

16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah
itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriah.

Dokumen tertulis ber-tarikh Hijriah yang paling awal (mencantumkan Sanah 17
= Tahun 17) adalah Maklumat Keamanan dan Kebebasan Beragama dari Khalifah
Umar bin Khattab kepada seluruh penduduk Kota Aelia

(Jerusalem) yang baru saja dibebaskan laskar Islam dari penjajahan Romawi.

Sistem Kalender Hijriah

Dari Muharram sampai Dzul-Hijjah, setiap bulan 30 atau 29 hari sehingga 354
hari setahun. Dalam setiap siklus 30 tahun, 11 tahun adalah kabisat
(Dzul-Hijjah dijadikan 30 hari), yaitu tahun-tahun ke-2, 5, 7, 10, 13, 16,
18, 21, 24, 26 dan 29. Pada tanggal 31 Januari 2006, kita memulai tahun baru
1 Muharram 1427 Hijriah, tahun ke-17 dalam siklus 1411-1440.

Oleh karena peredaran bulan adalah sesuatu yang eksak, maka awal puasa dan
Idul Fitri pada masa mendatang sudah dapat kita hitung secara ilmiah! Kita
akan memulai ibadah puasa Ramadhan tanggal 24 September

2006 dan merayakan Idul Fitri tanggal 23 Oktober 2006. Selanjutnya kita akan
berpuasa Ramadhan lagi mulai tanggal 13 September 2007, lalu berlebaran pada
tanggal 13 Oktober 2007.

Setiap 32 atau 33 tahun, dalam satu tahun Masehi terjadi dua kali Idul Fitri
(awal Januari dan akhir Desember) seperti pada tahun 2000 yang lalu. Idul
Fitri berdekatan dengan Tahun Baru Masehi. Fenomena ini pernah terjadi pada
tahun 1870, 1903, 1935, 1968, dan akan berlangsung lagi tahun 2033, 2065,
2098, 2130, dan seterusnya.

`Konversi tahun Hijriah ke tahun Masehi atau sebaliknya dapat dilakukan
dengan memakai rumus:

M = 32/33 H + 622

H = 33/32 ( M - 622 )

Kalender Hijriah setiap tahun 11 hari lebih cepat dari kalender Masehi,
sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender ini lambat laun makin
mengecil. Angka tahun Hijriah pelan-pelan 'mengejar' angka tahun Masehi, dan
menurut rumus di atas keduanya akan bertemu pada tahun 20526 Masehi yang
bertepatan dengan tahun 20526 Hijriah. Saat itu kita entah sudah berada di
mana. "Perhatikanlah waktu!

Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian…" demikian pesan suci
Al-Quran.

Kalender Saka dan Jawa

Nenek moyang kita memakai kalender Saka sewaktu masih memeluk agama Hindu.
Kalender Saka dimulai tahun 78 Masehi, ketika kota Ujjayini (Malwa di India
sekarang) direbut kaum Saka (Scythia) di bawah pimpinan Raja Kaniska dari
tangan kaum Satavahana. Tahun baru terjadi pada saat Minasamkranti (matahari
pada rasi Pisces) awal musim semi.

Nama-nama bulan adalah Caitra, Waisaka, Jyestha, Asadha, Srawana,
Bhadrawada, Aswina (Asuji), Kartika, Margasira, Posya, Magha, Palguna.

Agar kembali sesuai dengan matahari, bulan Asadha dan Srawana diulang secara
bergilir setiap tiga tahun dengan nama Dwitiya Asadha dan Dwitiya Srawana.
Satu bulan dibagi dua bagian: suklapaksa (paro terang, dari konjungsi sampai
purnama) dan kresnapaksa (paro gelap, dari selepas purnama sampai menjelang
konjungsi), masing-masing bagian

15 atau 14 hari (tithi). Jadi, kalender Saka tidak memiliki tanggal 16.
Misalnya, tithi pancami suklapaksa adalah tanggal lima, sedangkan tithi
pancami kresnapaksa adalah tanggal dua puluh.

Kalender Saka dipakai di Jawa sampai awal abad ke-17. Kesultanan Demak,
Banten, dan Mataram menggunakan kalender Saka dan kalender Hijriah secara
bersama-sama. Pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka atau

1043 Hijriah), Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Molana Matarami
(1613-1645) dari Mataram menghapuskan kalender lunisolar Saka dari Pulau
Jawa, lalu menciptakan kalender Jawa yang mengikuti kalender lunar Hijriah.
Namun, bilangan tahun 1555 tetap dilanjutkan.

Jadi, 1 Muharram 1043 Hijriah adalah 1 Muharam 1555 Jawa, yang jatuh pada
hari Jum'at Legi tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Angka tahun Jawa selalu
berselisih 512 dari angka tahun Hijriah. Keputusan Sultan Agung ini
disetujui dan diikuti oleh Sultan Abul-Mafakhir Mahmud Abdulkadir

(1596-1651) dari Banten. Dengan demikian kalender Saka tamat riwayatnya di
seluruh Jawa, dan digantikan oleh kalender Jawa yang bercorak Islam.

Nama-nama bulan disesuaikan dengan lidah Jawa: Muharam, Sapar, Rabingulawal,
Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Saban, Ramelan, Sawal,
Dulkangidah, Dulkijah. Muharam juga disebut bulan Sura sebab mengandung Hari
Asyura 10 Muharram. Rabi'ul-Awwal dijuluki bulan Mulud, yaitu bulan
kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Rabi'ul-Akhir adalah Bakdamulud atau
Silihmulud, artinya "sesudah Mulud".

Sya'ban merupakan bulan Ruwah, saat mendoakan arwah keluarga yang telah
wafat, dalam rangka menyambut bulan Pasa (puasa Ramadhan).

Dzul-Qa'dah disebut Hapit atau Sela sebab terletak di antara dua hari raya.
Dzul-Hijjah merupakan bulan Haji atau Besar (Rayagung), saat berlangsungnya
ibadah haji dan Idul Adha.

Nama-nama hari dalam bahasa Sansekerta (Raditya, Soma, Anggara, Budha,
Brehaspati, Sukra, Sanaiscara) yang berbau jahiliyah (penyembahan
benda-benda langit) juga dihapuskan oleh Sultan Agung, lalu diganti dengan
nama-nama hari dalam bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah

Jawa: Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jumuwah, Saptu. Tetapi hari-hari
pancawara (Pahing, Pon, Wage, Kaliwuan, Umanis atau Legi) tetap
dilestarikan, sebab hal ini merupakan konsep asli masyarakat Jawa, bukan
diambil dari kalender Saka atau budaya India.

Dalam setiap siklus satu windu (delapan tahun), tanggal 1 Muharam

(Sura) berturut-turut jatuh pada hari ke-1, ke-5, ke-3, ke-7, ke-4, ke-2,
ke-6 dan ke-3. Itulah sebabnya tahun-tahun Jawa dalam satu windu dinamai
berdasarkan numerologi huruf Arab: Alif (1), Ha (5), Jim Awwal (3), Zai (7),
Dal (4), Ba (2), Waw (6), dan Jim Akhir (3). Sudah tentu pengucapannya
menurut lidah Jawa: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.
Tahun-tahun Ehe, Je, dan Jimakir ditetapkan sebagai kabisat. Jumlah hari
dalam satu windu adalah [354 x 8] + 3 = 2835 hari, angka yang habis dibagi
35 [7 x 5]. Itulah sebabnya tanggal 1 Muharam tahun Alip dalam setiap 120
tahun selalu jatuh pada hari dan pasaran yang sama.

Oleh karena kabisat Jawa tiga dari delapan tahun (3/8 = 45/120), sedangkan
kabisat Hijriah 11 dari 30 tahun (11/30 = 44/120), maka dalam setiap 15
windu (120 tahun), yang disebut satu kurup, kalender Jawa harus hilang satu
hari, agar kembali sesuai dengan kalender Hijriah. Sebagai contoh, kurup
pertama berlangsung dari Jumat Legi 1 Muharam tahun Alip 1555 sampai Kamis
Kliwon 30 Dulkijah tahun Jimakir 1674. Di sini 30 Dulkijah dihilangkan.
Dengan demikian Rabu Wage 29 Dulkijah 1674 akhir kurup pertama langsung
diikuti oleh awal kurup kedua Kamis Kliwon 1 Muharam tahun Alip 1675.

Setiap kurup (periode 120 tahun) dinamai menurut hari pertamanya.

Periode 1555-1674 disebut kurup jamngiah (Awahgi = tahun Alip mulai Jumuwah
Legi), kemudian periode 1675-1794 kurup kamsiah (Amiswon =
Alip-Kemis-Kliwon), dan periode 1795-1914 kurup arbangiah (Aboge =
Alip-Rebo-Wage). Sejak 1 Muharam tahun Alip 1915 (1 Muharram 1403

Hijriah) yang jatuh pada 19 Oktober 1982, kita berada dalam kurup salasiah
1915-2034 (AsoPon = Alip-Seloso-Pon), di mana setiap 1 Muharam tahun Alip
pasti jatuh pada hari Selasa Pon. Tahun baru 1 Muharam (Sura) tahun Alip
1939, yang identik dengan 1 Muharram 1427 Hijriah, jatuh pada hari Selasa
Pon tanggal 31 Januari 2006.

Kalender Sunda (?)
Belakangan ini mulailah populer apa yang disebut Kala Sunda, yang dikatakan
sebagai kalender lunar asli Sunda yang terlupakan selama ratusan tahun. Kala
Sunda ternyata memiliki kejanggalan dalam penentuan awal bulan. Berbeda
dengan kalender solar yang tidak tergantung pada posisi bulan, semua
kalender lunar dan lunisolar harus memperhitungkan munculnya bulan baru
dalam penentuan tanggal satu.

Itulah sebabnya tanggal satu (awal bulan) dari kalender-kalender Hijriah,
Jawa, Yahudi, Saka, Buddha dan Imlek selalu berdekatan.

Anehnya, Kala Sunda menetapkan tanggal satu ketika bulan berwujud setengah
lingkaran (padahal seharusnya tanggal 7 atau 8). Istilah Sansekerta
suklapaksa (paro terang), yang arti sesungguhnya "separo bulan (half-moon)
sebelum purnama", dipersepsi secara lain oleh sang pembuat kalender Kala
Sunda, yaitu "awal bulan terjadi ketika bulan terlihat separo (half-moon)"!

Ternyata apa yang dinamakan Kala Sunda itu merupakan kalender modern yang
diramu dari berbagai sistem kalender lain, lalu dimodifikasi agar kelihatan
berbeda dengan kalender-kalender sebelumnya. Sistem Kala Sunda persis sama
seperti pinang dibelah dua dengan sistem kalender

Jawa: dalam sewindu ada tiga tahun kabisat, dan setiap 120 tahun dihilangkan
sehari, sehingga jika misalnya awal windu (indung powe) Senen Manis, maka
awal windu selanjutnya Senen Manis juga. Setiap 120 tahun, indung powe
berganti dari Senen Manis menjadi Ahad Kliwon, kemudian menjadi Sabtu Wage,
dan seterusnya.Jadi, sama sekali tidak ada kelebihan Kala Sunda dari
kalender karya Sultan Agung yang selama ini dipakai oleh masyarakat Sunda,
termasuk oleh Harian Pikiran Rakyat setiap hari.

Nama-nama bulan dalam Kala Sunda (Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna,
Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, Asuji), nama-nama hari (Radite,
Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, Tumpek), serta pembagian bulan menjadi
suklapaksa dan kresnapaksa sehingga tidak ada tanggal 16, semuanya itu
meniru kalender Saka, kecuali nama hari Tumpek (Sabtu) yang entah dari mana
diambil. Nama-nama ini bukan budaya asli Sunda, melainkan pinjaman dari
India. Di kalangan rumpun Indo-Jermania (termasuk India), hari pertama
berhubungan dengan dewa matahari (Raditya, Dies Solis, Sunday, Zondag,
Sonntag, Dimanche), dan hari kedua dengan dewa bulan (Soma, Dies Lunae,
Monday, Maandag, Montag, Lundi). Nama-nama hari kalender Saka yang sudah
dihapuskan Sultan Agung lantaran berbau kemusyrikan kini dihidupkan kembali
oleh Kala Sunda.

Masih ada lagi beberapa hal yang patut dijelaskan oleh sang pembuat kalender
Kala Sunda. Mengapa bulan pertama dalam Kala Sunda adalah Kartika, yang
dalam kalender Saka bulan kedelapan? Apakah manfaatnya menghitung tanggal
satu dari saat bulan setengah lingkaran, yang tidak pernah ada sepanjang
sejarah kalender sejak zaman Mesopotamia dan Mesir Purba? Apakah gunanya
menghidupkan kembali pembagian bulan menjadi suklapaksa dan kresnapaksa,
padahal dalam kalender Saka modern di India tidak dipakai lagi? Jika
sekarang tahun 1942 Sunda, berarti tahun 1 kalender Kala Sunda jatuh pada
tahun 123 Masehi. Peristiwa penting apakah gerangan yang terjadi tahun 123
Masehi, sehingga kita tetapkan sebagai Tahun Satu?

Kala Sunda memang cukup akurat, cuma kita harus jujur mengatakan bahwa ini
adalah kalender baru ciptaan seorang budayawan Sunda, Ali Sastramidjaja
(Abah Ali), yang sangat patut kita hargai! Tetapi janganlah kita gegabah
mengatakannya sebagai warisan leluhur Ki Sunda, sebab belum pernah ada
kalender seperti itu. Prasasti-prasasti sebelum Islam selalu menggunakan
kalender Saka (India), meskipun banyak yang dilengkapi pancawara (bahkan ada
juga yang memakai sadwara) hari-hari asli Jawa dan Sunda.

Kalender Hijriah Solar

Ditinjau dari hubungan terhadap kalender Hijriah, kalender Jawa berkebalikan
dengan kalender Iran (Persia). Jika di Jawa kalender mengikuti Hijriah
tetapi angka tahun tidak berubah, maka di Iran kalender tidak berubah tetapi
angka tahun dihitung dari hijrah Nabi.

Jadi kalender Iran adalah kalender Hijriah Solar (kalender Hijriah dengan
perhitungan matahari). Selain berlaku di Iran, kalender ini juga dipakai di
Afganistan dan Tajikistan sebagai sesama rumpun bangsa Persia.

Kalender Iran diciptakan Raja Cyrus tahun 530 SM, dan dibuat lebih akurat
pada awal abad ke-12 oleh ahli matematika dan astronomi yang juga sastrawan,
Umar Khayyam (1050-1122). Tahun baru (Nawruz) selalu jatuh pada awal musim
semi. Nama-nama bulan adalah Farwardin, Ordibehest, Khordad, Tir, Mordad,
Shahriwar, Mehr, Aban, Azar, Dey, Bahman, Esfand. Enam bulan pertama 31 hari
dan lima bulan berikutnya 30 hari. Bulan terakhir, Esfand, 29 hari (tahun
biasa) atau 30 hari (tahun kabisat yang empat tahun sekali).

Dibandingkan dengan kalender solar yang lain, kalender Iran paling cocok
dengan musim. Tanggal 1 Farwardin selalu 21 Maret (awal musim semi), tanggal
1 Tir selalu 22 Juni (awal musim panas), tanggal 1 Mehr selalu 23 September
(awal musim gugur), dan tanggal 1 Dey selalu 22 Desember (awal musim
dingin).

Setelah bangsa Iran memeluk agama Islam, tahun hijrah Nabi (622 M) dijadikan
Tahun Satu, tetapi kalender tetap berdasarkan matahari.

Tahun baru tanggal 1 Farwardin 1385 Hijriah Solar jatuh pada 21 Maret 2006.

Khatimah

Sebagai penutup uraian, penulis artikel ini mengimbau agar umat Islam
membiasakan penggunaan tarikh Hijriah (di samping tarikh Masehi) dalam
catatan harian, surat-surat, hari lahir anggota keluarga, dan sebagainya.
Banyak di antara kita yang mungkin belum tahu bahwa proklamasi kemerdekaan
bangsa dan negara Republik Indonesia berlangsung pada hari Jumat tanggal 9
Ramadhan 1364 Hijriah atau 9 Ramelan (Pasa) Ehe 1876 atau 26 Mordad 1324
Hijriah Solar, yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 Masehi.***

Penulis, Direktur "Ganesha Operation" Bandung.

--

Ismail Fahmi

Information Science & University Library University of Groningen, The
Netherlands

Phone:

Dept: +31 50 363 5942

Library: +31 50 363 2661

HP: 0649326202

*http://urd.let.rug.nl/fahmi* <http://urd.let.rug.nl/fahmi> (research)

*http://ismailfahmi.org* <http://ismailfahmi.org/> (blog)

*http://lyrics.mylnm.com* <http://lyrics.mylnm.com/> (toys)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s