Posted by: evanbumiayu | May 15, 2008

Melanggengkan Idealisme Kita

Oleh : Evan Rizaldhi

STAN merupakan salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal di Indonesia. Kampusnya yang terletak di daerah Jurangmangu ini sering disebut sebagai Kampus Plat Merah, karena statusnya sebagai Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK), lebih spesifiknya lagi PTK yang bernaung di bawah Departemen Keuangan. Dalam tataran hubungan antarperguruan tinggi, STAN sejajar dengan PTK-PTK lainnya, seperti STIS, AMG, STPI, STSN dan lain sebagainya. Selain itu, STAN juga memiliki tingkatan yang sama dengan perguruan tinggi umum lainnya seperti UI, ITB, IPB, UNJ dan lain sebagainya. Kenyataan ini memberikan gambaran bahwa STAN memiliki posisi dan peran yang cukup signifikan dalam dunia pendidikan maupun pemerintahan Indonesia. Tak hanya itu, seiring berjalannya waktu, sejarah telah membuktikan bahwa eksistensi STAN sebagai sebuah PTK makin melesat jauh ke depan. Kiprahnya dalam kancah birokrasi pemerintahan dan perpolitikan negeri ini telah banyak memberikan sumbangsih tak ternilai bagi kemajuan kehidupan bangsa, khususnya sejak ide reformasi mulai digulirkan tahun 1998 lalu. STAN bersama kampus-kampus lainnya dengan lantang menyuarakan kebenaran, mengikis habis segala bentuk kesewenang-wenangan, menyalurkan aspirasi masyarakat dan menentang segala bentuk praktik birokrasi yang buruk. Para mahasiswanya aktif melakukan aksi turun ke jalan, mengusung panji-panji kebenaran dan keadilan demi terwujudnya perubahan yang lebih baik dan bersih dalam tatanan pemerintahan.

“Kami tak hanya bicara, tapi sekedar fakta”, mungkin itulah sebuah pernyataan yang sering dilontarkan para pendahulu kita. Ya, fakta. Fakta ketika para lulusannya telah banyak yang melakukan perbaikan-perbaikan di birokrasi keuangan. Fakta ketika jebolan Kampus Ali Wardhana ini memiliki peran yang sangat strategis dan diandalkan di kantor-kantor. Dan juga fakta ketika mahasiswa hasil didikan bumi Jurangmangu ini mampu membuat lompatan-lompatan prestasi, baik dalam hal moral, intelektual maupun sosial. Itu semua memang fakta, yang telah terbukti adanya. Memang, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada juga para lulusannya yang masih memerankan “permainan cerdik” di kantor-kantor. Namun, sekali lagi, peran agent of change yang sudah disematkan dalam dada mahasiswa, khususnya mahasiswa STAN, telah nampak jelas buktinya. Peran itu begitu mudah didapatkan dan dimainkan. Mengapa ? Karena kita adalah mahasiswa yang akan terjun langsung ke birokrasi tersebut. Kita akan menjadi bagian dari keluarga besar Departemen Keuangan, mengawal keuangan negara demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sehingga, ketika seorang mahasiswa STAN masuk dalam jajaran birokrasi keuangan, ia akan dengan mulus memainkan perannya sebagai agen perubahan tersebut. Ini tentunya sangat berbeda dengan para mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya.

Kawan, itulah sedikit obrolan tentang idealisme. Idealisme yang diusung oleh para pendahulu kita sejak awal berdirinya kampus ini. Idealisme untuk meninggikan nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan. Juga idealisme untuk mewujudkan nilai-nilai moralitas, intelektualitas dan sosialitas. Sehingga, dengan idealisme ini seorang mahasiswa akan memiliki visi dan misi hidup yang kokoh, mempunyai target-target pencapaian prestasi dalam kehidupannya, mampu memainkan perannya sebagai mahasiswa yang cerdas dan dinamis, serta kelak ketika terjun dalam kancah birokrasi akan tetap mampu menjadi agent of change dalam setiap sepak terjangnya. Tentunya kita tidak bisa menafikan bahwa keberadaan kita untuk menimba ilmu di sini salah satunya adalah karena adanya sokongan dana yang disumbangkan rakyat kepada negara, sehingga akan sangat tidak manusiawi seandainya kesempatan langka untuk belajar di kampus ini kita lewatkan dengan sia-sia, waktu yang ada kita hambur-hamburkan dengan aktivitas yang tidak produktif, atau hari-hari panjang kita diisi dengan kesenangan pribadi yang tak berujung. Saya yakin, hati rakyat akan teriris ketika mengetahui hal ini.

Namun, di dalam upaya kita untuk mempertahankan idealisme itu, ada banyak hambatan dan godaan yang terus menghadang. Ketika masih mahasiswa misalnya, keinginan untuk memuaskan kesenangan pribadi secara terus menerus menjadi faktor utama yang melemahkan idealisme. Atau, jiwa kepekaan sosial dan moral kita yang mulai mengendur menjadi unsur penting yang mampu mengalahkan idealisme. Dan ketika sudah bekerja, hambatan dan godaan itu akan lain lagi bentuknya. Harta dan jabatan menjadi lakon utama yang akan terus menggerogoti semangat idealisme, baik di birokrasi pemerintahan maupun dalam lapangan kehidupan masyarakat. Kita tentunya sudah mengerti bahwa tantangan kerja di birokrasi akan sangat berat dan melelahkan. Sungguh, betapa seorang mahasiswa yang dikenal sebagai “aktivis tulen” sekalipun belum tentu mampu terhindar dari virus ini, baik ketika masih menjadi mahasiswa maupun ketika sudah bekerja. Kondisi-kondisi tak terduga dan ekstrim yang akan dihadapi di sana akan menjadi semacam alat eksperimen untuk menguji kekuatan idealisme kemahasiswaan, apakah akan terus langgeng ataukah akan terpatahkan di tengah jalan. Dan, apabila seorang aktivis pun bisa terkena virus ini, bagaimana dengan mahasiswa yang tidak mempunyai semangat idealisme, visi dan misi hidup, atau hidup dalam ketidakproduktifan yang sia-sia? Apakah yang akan dilakukannya kelak nanti ? Mungkinkah dia akhirnya menjadi aktor penerus dalam “permainan cerdik”?

Sudah saatnya kita sebagai mahasiswa STAN, calon pengawal keuangan negara menguatkan kembali semangat idealisme itu. Saya yakin, setiap diri kita telah mempunyai semangat itu, juga visi dan misi hidup yang tertulis dalam lembaran-lembaran hati kita. Tinggal bagaimana idealisme yang telah tertanam tersebut dapat terus langgeng dan kekal, seiring dengan berjalannya waktu. Bagaimana caranya ? Setidaknya, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita persiapkan dan kita lakukan untuk melanggengkan idealisme ini. Pertama, mengokohkan iman dan taqwa. Idealisme lekat sekali dengan kekuatan iman. Karena iman adalah pondasi utama seseorang dalam hidupnya. Ketika iman seseorang kepada Allah swt begitu kuat melekat, maka segala godaan dan cobaan bukan menjadi hal yang memberatkan baginya. Ia akan terus tegar dan konsisten menyuarakan kebenaran, sekalipun orang-orang disekitarnya membencinya, bahkan mengucilkannya. Dan ketika iman berada di puncaknya yang tertinggi, maka buah taqwa akan diraihnya. Tentu kita masih ingat dengan kisah Bilal r.a, seorang budak yang dipaksa oleh majikannya untuk menanggalkan keimanannya dan kembali menyembah berhala dengan cara disiksa di bawah terik panas matahari padang pasir. Namun, apakah ia begitu saja menuruti permintaan majikannya itu ? Tentu tidak. Ia terus bersuara lantang “Ahad…Ahad…Ahad”, merefleksikan keimanan dan idealismenya yang tertinggi. Atau seorang Galileo Galilei yang harus rela dihukum gantung oleh pemerintahnya saat itu karena idealismenya yang kuat untuk mempertahankan teori Heliosentrisnya. Begitu pula di lingkungan kerja kita nanti, berbagai godaan dan cobaan harta, jabatan dan bahkan wanita akan terus memburu. Jika tidak memiliki iman dan taqwa yang kuat, niscaya kita akan mudah tergelincir ke lembah kenistaan. Selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah kita, rajin mengkaji buku-buku keagamaan, aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dan bergaul dengan orang-orang yang baik adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk memperkokoh keimanan dan ketaqwaan kita. Kedua, memiliki kecerdasan berpikir dan bertindak. Orang yang cerdas bukan berarti memiliki IPK cumlaude, akan tetapi orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengambil hikmah dan peluang yang baik dari setiap keadaan dan kondisi yang ditemuinya. Ia akan selalu aktif bergerak, bekerja dan berusaha membuat terobosan-terobosan baru serta menelurkan ide-ide kreatif yang bermanfaat bagi semua orang tanpa hanya menunggu. Ia terus berprestasi, sekecil apapun prestasi tersebut. Bukankah kita masih ingat kisah seorang Einstein, penemu Teori Relativitas yang menggemparkan dunia ? Ketika masih kecil, ia sudah divonis bahwa kelak ketika besar dia tidak akan menjadi apa-apa. Namun, apa yang terjadi ? Kecerdasan berpikirnya mampu menggerakkan badannya untuk bertindak sehingga ia dapat menelurkan hasil karya kelas dunia. Atau seorang Ibnu Taimiyah yang pernah berkali-kali dipenjara. Di sana, ia malah berhasil menulis berjilid-jilid buku mengenai fiqh Islam. Inilah profil mahasiswa STAN yang sebenarnya diharapkan. Kecerdasannya dalam berpikir dan bertindak sangat diperlukan dalam melaksanakan kerja-kerja di kantor, sehingga tak ayal hal itu akan makin meningkatkan market value-nya di instansi tersebut. Cerita-cerita pengalaman dari para pendahulu kita membuktikan bahwa tingginya IPK bukan jaminan seorang mahasiswa akan sukses dalam karirnya, akan tetapi kecerdasannya dalam berpikir dan bertindaklah yang akan banyak berperan. Aktif dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan yang dapat mengasah kecerdasan kita, sering mengikuti kegiatan-kegiatan kampus, giat dalam aksi-aksi sosial dan peka terhadap kondisi masyarakat adalah beberapa contoh upaya yang dapat kita lakukan untuk melanggengkan idealisme tersebut. Ketiga, memperluas jaringan. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara bergaul dengan siapapun (terutama rekan satu almamater) tanpa memandang statusnya dan mengambil hikmah dari setiap pengalaman yang diceritakan orang tersebut. Karena sesungguhnya yang sedang kita lakukan adalah kerja besar yang diusung oleh banyak orang. Upaya-upaya perubahan dan perbaikan di birokrasi yang dilandasi semangat idealisme tidak akan mampu berjalan lurus dan langgeng tanpa dukungan dan sokongan dari berbagai pihak, terutama orang tua dan rekan seperjuangan. Maka, menjadi hal yang patut diperhatikan untuk mengabadikan idealisme kita adalah dengan terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan rekan-rekan kita, sehingga semangat idealisme tersebut tidak mudah luntur walaupun kita berada di daerah yang sangat jauh sekalipun. Saya pernah mendapatkan sebuah cerita dari seorang alumni kampus ini yang telah berhasil menduduki posisi Eselon III di Departemen Keuangan. Beliau mengatakan bahwa suatu ketika rekan seperjuangannya ditugaskan di sebuah kota di luar Jawa. Dalam menjalankan tugasnya itu, ternyata ia hampir terjebak ke lembah kemaksiatan atas rekayasa suatu pihak. Beruntunglah, Allah swt masih menyelamatkannya sehingga ia terhindar dari perilaku nista tersebut. Segera setelah itu, ia menelpon rekan seperjuangannya di Jakarta pada tengah malam, sekedar untuk mendengarkan suaranya dan menanyakan kabarnya. Itu saja. Dan demikianlah, motivasi dan dorongan dari rekan seperjuangan begitu berarti bagi kita. Ia laksana air dingin yang mampu menyejukkan hati yang sedang gelisah dan membara. Ia dapat membangkitkan dan mengokohkan idealisme kita kembali. Untuk itulah, diperlukan kemampuan komunikasi yang efektif dan ketinggian budi pekerti dalam setiap pergaulan yang kita lakukan. Adalah cukup bagi kita untuk meneladani keluhuran akhlaq manusia yang menempati urutan teratas menurut Michael H. Hart, dalam bukunya yang berjudul “The 100 : A Rangking of the Most Influential Persons in History”, beliau Nabi Muhammad saw.

Begitulah, seandainya tiga hal ini dapat diaplikasikan dengan baik, maka di mana pun kita, kapan pun dan dalam keadaan apa pun idealisme itu terus mengakar kuat dalam hati sanubari, menggerakkan seluruh tubuh, hati dan pikiran untuk berbuat sesuatu, mengubah keburukan-keburukan yang ada menjadi tatanan kebaikan yang luhur, menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan serta mengedepankan aspek-aspek moralitas, intelektualitas dan sosialitas dalam segala kehidupannya. Dengan demikian, harapan terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa akan segera nyata. Bukan tidak mungkin kesejahteraan masyarakat akan segera tercapai. Sekali lagi kawan, kita sedang memikul amanah rakyat yang sungguh berat. Akankah kita mengkhianati amanah ini ?


Leave a response

Your response:

Categories